Evaluasi Keberhasilan Promil Endosister: Bukan Sekadar Garis Dua

Menjalani program hamil (promil) bisa menjadi perjalanan yang panjang dan penuh tantangan, baik secara fisik maupun emosional. Banyak pasangan merasa telah melakukan segala upaya: dari terapi medis, perubahan gaya hidup, hingga memantau masa subur setiap bulan. Namun, hasil yang diharapkan tidak selalu datang dengan cepat. Karena itu penting untuk memahami bahwa keberhasilan promil tidak semata-mata diukur dari hasil test pack, tetapi juga dari proses dan progres yang terjadi dalam tubuh. 

Sebelum menilai apakah promil berhasil atau tidak, kita perlu memahami istilah-istilah yang biasa digunakan oleh tenaga medis dalam mengevaluasi hasil promil.

Istilah Penting dalam Promil

“Apakah promil berhasil menghasilkan kehamilan sehat dan kelahiran bayi hidup?”

Dalam dunia medis, terdapat beberapa istilah yang penting kita ketahui, yaitu:

  • Infertilitas: ketidakmampuan pasangan untuk mencapai kehamilan setelah ≥ 12 bulan melakukan hubungan seksual teratur tanpa kontrasepsi. Untuk wanita usia ≥ 35 tahun, evaluasi dapat dipertimbangkan setelah 6 bulan.
    • Primer: ketika pasangan belum pernah hamil sama sekali meskipun telah berusaha secara teratur
    • Sekunder: ketika pasangan telah pernah hamil (atau melahirkan) sebelumnya, tetapi sekarang mengalami kesulitan untuk hamil kembali meskipun telah berusaha secara teratur
  • Inseminasi: tatalaksana infertilitas di mana sperma yang telah diproses dibawa langsung ke rahim pada waktu ovulasi, untuk meningkatkan peluang bertemunya sperma dan sel telur
  • Bayi tabung / IVF (In Vitro Fertilization): termasuk bagian dari teknologi reproduksi berbantu di mana oosit & sperma dibuahi di luar tubuh, lalu embrio ditanam ke rahim

Beberapa penyebab infertilitas pada wanita adalah gangguan ovulasi, cadangan telur rendah, gangguan saluran tuba, atau masalah rahim. Sedangkan pada pria beberapa diantaranya adalah penurunan kualitas sperma (jumlah, motilitas, morfologi) yang disebabkan oleh gaya hidup. Gaya hidup berupa konsumsi alkohol, perilaku merokok, obesitas dapat menurunkan jumlah sperma dan diikuti dengan penurunan motilitas. Begitu juga dengan wanita, cadangan telur berkurang seiring waktu baik jumlah maupun kualitas oosit menurun setelah usia 35 tahun.

Bagi endowarriors, program hamil sering kali bukan sekadar soal menunggu garis dua, tetapi juga tentang berdamai dengan tubuh yang berjuang melawan nyeri kronis, peradangan, operasi, hingga rasa lelah emosional karena proses yang berulang. Semua dilalui sambil bertanya-tanya apakah endometriosis yang dimiliki akan selalu menjadi “penghalang”, adakah celah kesempatan untuk hamil sebelum endometriosis kian meradang. Sehingga, wajar jika muncul kecemasan: apakah yang sudah aku jalani ini sudah cukup? apakah tubuhku merespons? atau aku hanya membuang waktu? Artikel ini hadir untuk membantu endowarriors melihat evaluasi promil dengan sudut pandang yang lebih utuh.

Evaluasi Efektivitas Promil

Ovulasi secara teratur merupakan salah satu indikator bahwa kamu sudah menjalani promil dengan tepat. Selain itu terdapat beberapa pemeriksaan yang dapat membantu evaluasi, yaitu:

1. USG Transvaginal

Pemeriksaan menggunakan alat ultrasonografi untuk melihat langsung kondisi organ reproduksi. Prosedur ini dapat mendeteksi jumlah dan perkembangan folikel (telur) sesuai siklus haid. Selain itu, dapat melihat adanya kelainan yang sering menyebabkan terjadinya infertilitas, seperti kista endometriosis, adenomyosis, mioma, atau kelainan rahim lainnya.

2. HSG (Histerosalpingografi)

Prosedur ini dilakukan oleh dokter spesialis radiologi untuk mengetahui kondisi saluran tuba falopi. Histerosalpingografi dilakukan dengan memasukkan cairan khusus (kontras) via serviks (mulut rahim) bersamaan dengan dilakukannya foto rontgen untuk melihat apakah saluran tuba normal atau tersumbat.

3. Analisis Sperma Pasangan

Pemeriksaan kualitas sperma untuk melihat apakah sperma cukup sehat untuk membuahi sel telur. Analisis dilihat dari jumlah (konsentrasi), gerakan (motilitas), dan bentuk (morfologi) sperma. Sperma yang sehat dapat meningkatkan peluang pembuahan/fertilisasi yang lebih tinggi.

4. Tes Ovulasi di Rumah

Alat sederhana yang dapat kita gunakan untuk mengetahui masa subur adalah tes ovulasi (ovutest). Alat ini dapat mendeteksi adanya lonjakan peningkatan hormon LH sebelum terjadinya ovulasiTes ini digunakan untuk mengetahui masa subur secara mandiri yang mana dapat membantu menentukan waktu terbaik untuk berhubungan saat promil.

5. Tes hormonal 

Pemeriksaan hormon bukan merupakan pemeriksaan rutin pada pasien dengan infertilitas. Indikasi tersering pemeriksaan hormon adalah gangguan pada siklus haid atau timbulnya gejala-gejala khas pada kelainan hormon tertentu. Beberapa hormon yang sering diperiksa :

  1. AMH (Anti-Müllerian Hormone) → Menggambarkan cadangan sel telur pada ovarium
  2. Prolaktin → kadang meningkat akibat adanya prolaktinoma (tumor pada kelenjar hipofisis) sehingga mengganggu ovulasi dan siklus haid
  3. TSH (Thyroid Stimulating Hormone) → merupakan hormon yang menunjukkan fungsi kelenjar tiroid (normal, hipertiroid atau hipertiroid) yang dapat mempengaruhi kesuburan
  4. Progesteron → hormon yang diperiksa pada fase sekresi untuk membuktikan adanya ovulasi dan sangat penting dalam terjadinya kehamilan normal
  5. Testosteron → terkadang diperiksa bila pasien menunjukkan adanya kondisi hiper androgen yang ditandai adanya pertumbuhan rambut yang berlebihan, rambut rontok dan jerawat yang sulit disembuhkandisertai adanya gangguan haid.

Hasil dari pemeriksaan-pemeriksaan diatas akan membantu dokter menentukan apakah pasien bisa melanjutkan promil secara alami, atau apakah perlu bantuan medis lebih lanjut seperti inseminasi atau bayi tabung (IVF).IVF).

Gaya Hidup Menjadi Penting

Gaya hidup yang sehat juga memiliki peran besar dalam mendukung fungsi reproduksi baik pada perempuan maupun laki-laki. Beberapa kebiasaan sederhana sehari-hari ternyata berpengaruh langsung pada keseimbangan hormon, kualitas sel telur dan sperma, serta keberhasilan promil secara keseluruhan. Hal yang dapat dilakukan berupa menjaga berat badan ideal, konsumsi makanan bergizi seimbang, aktivitas fisik teratur, menghindari rokok dan alkohol serta mengelola stres dan kesehatan mental.

Implikasi Bagi Pasangan 

Apa artinya semua ini bagi kamu yang sedang berjuang?

  1. Kelola harapan dengan realistis: Jangan patah semangat jika transfer pertama gagal karena banyak pasangan berhasil setelah beberapa siklus atau dengan embrio beku.
  2. Komunikasi dengan penyedia layanan fertilitas: Tanyakan tentang CLBR/ peluang total lahir hidup
  3. Pahami bahwa ada banyak variabel di luar kendali: Usia, cadangan telur, kualitas embrio, jumlah embrio akan turut mempengaruhi sehingga hasil cepat atau instan tidak bisa dijadikan patokan tunggal
  4. Persiapkan fisik & mental: Promil bisa menjadi perjalanan panjang dan berat sehingga dibutuhkan sikap sabar, konsisten, dan penerimaan atas kemungkinan yang dapat terjadi

Banyak pasangan tidak berhasil di siklus pertama dan itu normal. Promil bukanlah perlombaan, melainkan proses yang sangat personal dan penuh dinamika. Hal yang penting adalah adalah terus mengevaluasi, mengevaluasi dan memperbarui strategi, dan menjaga kesehatan fisik serta mental.

Kapan sebaiknya kamu mencari bantuan lagi?

  1. Menjalani promil alami lebih dari 6 bulan (usia >35) atau lebih dari 1 tahun (usia <35) tanpa hasil
  2. Mengalami riwayat keguguran berulang
  3. Punya endometriosis derajat sedang-berat
  4. Sudah pernah operasi kista atau laparoskopi tapi belum hamil

Jika terdapat salah satu di atas, maka saatnya konsultasi ulang dengan dokter kandungan subspesialis fertilitas (SpOG-KFER) untuk mengevaluasi dan mungkin mengubah strategi promil saat ini. 

Menjalani program hamil (promil) merupakan proses yang melibatkan fisik, emosi, waktu, dan harapan serta sering kali lebih kompleks dari yang dibayangkan. Setiap langkah, bahkan yang tampak kecil seperti perubahan pola makan, hasil tes hormon yang membaik, atau hanya datang tepat waktu ke konsultasi, adalah bagian penting dari perjalanan. Evaluasi efektivitas promil tidak semestinya menjadi alat untuk menilai apakah seseorang “gagal” atau “berhasil,” tetapi sebagai cara untuk lebih memahami bagaimana tubuh merespons, kapan harus melangkah maju, dan kapan perlu menyesuaikan strategi. Dengan mengenali efektivitas tersebut, kita dapat melakukan evaluasi secara berkala yang berpengaruh pada pengambilan keputusan secara tepat.

Bagi endowarriors, penting untuk diingat bahwa perjalanan promil sering kali membutuhkan pendekatan yang lebih personal dan bertahap. Endometriosis bukan hanya soal ada atau tidaknya kista, tetapi juga tentang peradangan, kualitas lingkungan rahim, respons hormon, dan bagaimana tubuh pulih setelah tindakan medis. Jika hari ini hasilnya belum seperti yang diharapkan, itu tidak berarti usahamu sia-sia. Evaluasi yang dilakukan secara sadar dan berulang justru adalah bentuk keberdayaan: mengenali batas tubuh, menguatkan komunikasi dengan dokter, serta memberi ruang bagi diri sendiri untuk istirahat tanpa rasa bersalah. Karena bagi endowarriors, keberhasilan promil bukan hanya tentang sampai di tujuan, tetapi juga tentang tetap utuh, sehat, dan berdaya sepanjang perjalanan.

Referensi:

  • Delbaere I, Verbiest S, Tydén T. Knowledge about the impact of age on fertility: a brief review. Ups J Med Sci. 2020;125(2):167–174.
  • World Health Organization. Infertility [Internet]. Geneva: WHO; 2023 [cited 2025 Dec 9]. Available from: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/infertility
  • Leaver RB. Male infertility: an overview of causes and treatment options. Br J Nurs. 2016;25(18):S35–S40.
  • National Institute for Health and Care Excellence (NICE). Fertility problems: assessment and treatment [Internet]. London: NICE; 2013 [cited 2025 Dec 9]. Available from: https://www.nice.org.uk/guidance/cg1565. Imperial College Healthcare NHS Trust. Fertility testing and investigations [Internet]. London: Imperial Private Healthcare; [cited 2025 Dec 5]. Available from: https://www.private.imperial.nhs.uk/services/fertility/fertility-care/fertility-testing-and-investigations
  • Mayo Clinic Staff. Infertility: Diagnosis and treatment [Internet]. Rochester (MN): Mayo Clinic; [cited 2025 Dec 5]. Available from: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/infertility/diagnosis-treatment/drc-20354322
  • Carson SA, Kallen AN. Diagnosis and management of infertility: a review. JAMA. 2021;326(1):65–76. Available from: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9302705/
  • Sumber foto: Freepik

Disusun oleh

  • Dr. dr. Gita Pratama, Sp. O.G, Subsp. F.E.R., M.Rep.Sc, Staf Divisi Immunoendokrinologi Reproduksi, Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
  • Ersa Felicia Simanjuntak, Mahasiswi Pendidikan Profesi Dokter FKUI

Artikel ini merupakan kerjasama antara komunitas Endometriosis Indonesia dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Tak Perlu Bingung Lagi!
Ukur Tingkat Kondisi Endometriosis Anda Disini