Kelola Gejala Endometriosis atau Fokus Program Hamil Dulu, Ya?

Endometriosis adalah kondisi kronis di mana jaringan lapisan rahim tumbuh di luar rongga uterus, yang memicu peradangan, nyeri panggul, gangguan menstruasi, hingga infertilitas (gangguan kesuburan). Kondisi ini memengaruhi kualitas hidup secara luas, dari aktivitas harian hingga harapan kehamilan. Namun yang membuat endometriosis begitu kompleks adalah berbedanya pengalaman setiap orang dengan diagnosis serupa. Beberapa mengalami nyeri hebat, sementara yang lain justru paling terganggu oleh masalah fertilitas (kesuburan). Gejala ini tidak selalu berhubungan dengan tingkat keparahan lesi (penyakit), sehingga pengobatan pun tidak bisa “satu resep untuk semua”.  Inilah sebabnya pendekatan yang terindividualisasi sangat penting sehingga rencana perawatan sebaiknya mencerminkan tujuan yang spesifik, apalagi ketika seorang pasien harus memilih antara mengelola gejala kronis atau memaksimalkan peluang kehamilan.

Kenapa Tujuan Perawatan Harus Ditentukan Sejak Awal?

Menentukan tujuan tatalaksana sejak awal adalah landasan rencana perawatan yang efektif. Hal ini penting karena pilihan terapi yang efektif untuk yang satu bisa berlawanan dengan tujuan lain. Tanpa tujuan yang jelas, perawatan endometriosis bisa berjalan tidak optimal. Seseorang bisa saja mendapatkan terapi yang efektif meredakan nyeri, tetapi tanpa disadari justru menunda peluang untuk hamil. Sebaliknya, fokus langsung pada kehamilan tanpa pengelolaan yang tepat dapat membuat gejala nyeri semakin berat dan mengganggu kualitas hidup. Dengan tujuan yang ditetapkan sejak awal, pilihan terapi dapat disusun secara lebih terarah dengan mempertimbangkan usia dan status ovulasi (pengeluaran sel telur), intensitas nyeri yang dirasakan, rencana kehamilan dalam jangka pendek atau panjang, serta faktor risiko lain seperti cadangan ovarium (sel telur) sehingga perawatan benar-benar selaras dengan kebutuhan dan fase hidup pasien.

Apa Saja yang Perlu Dipertimbangkan Sebelum Memilih Terapi?

Manajemen tatalaksana endometriosis sangat bergantung pada jenis gejala dan tujuan akhir terapi, pertimbangan berikut perlu dibahas secara menyeluruh dengan dokter:

1. Karakteristik gejala utama

Intensitas dan frekuensi nyeri, serta pengaruhnya terhadap aktivitas sehari-hari, menjadi dasar dalam memilih antara terapi medis atau kombinasi medis–bedah. Endometriosis umumnya menyebabkan nyeri panggul kronis yang kompleks dan memerlukan strategi manajemen nyeri yang menyeluruh.

2. Tujuan reproduksi jangka pendek atau panjang

    Pada pasien yang berencana hamil dalam waktu dekat, beberapa terapi hormonal yang efektif untuk nyeri justru dapat menunda ovulasi dan menghambat kehamilan, sehingga pendekatan yang lebih memprioritaskan fertilitas (kesuburan) atau pembedahan tertentu mungkin dipilih.

    3. Usia dan cadangan ovarium

      Faktor usia dan cadangan ovarium (sel telur) merupakan indikator penting dalam menentukan peluang keberhasilan kehamilan spontan atau melalui teknologi reproduksi berbantu.

      4. Riwayat respons dan tolerabilitas terhadap terapi sebelumnya

        Respon terhadap terapi hormonal maupun bedah dari pengalaman sebelumnya harus dievaluasi untuk meminimalkan efek samping dan memastikan manfaat optimal.

        5. Profil risiko lain dan kondisi komorbid

          Kondisi pendukung seperti autoimun atau kondisi lain yang dapat berinteraksi dengan terapi harus dipertimbangkan dalam rencana pengobatan yang holistik (menyeluruh).

          Kelola Gejala atau Fokus Promil?

          Kelola GejalaFokus Promil
          ProLebih efektif dalam mengontrol nyeri kronis dan meningkatkan kualitas hidup dalam jangka pendek–menengah, terutama pada pasien dengan gejala dominan dan aktivitas harian yang sangat terganggu.Memberi peluang optimal untuk kehamilan dengan menghindari terapi yang menghambat ovulasi (pengeluaran sel telur) serta memungkinkan tatalaksana fertilitas (kesuburan) yang lebih tepat sasaran.
          ContraBanyak terapi yang digunakan (terutama terapi hormonal) bersifat menekan ovulasi, sehingga kurang ideal bila kehamilan menjadi target dalam waktu dekat.Pengelolaan nyeri bisa menjadi kurang optimal bila tidak disertai strategi yang memadai, sehingga kualitas hidup tetap perlu dipantau secara ketat.

          Saat Prioritas Utamanya adalah Mengelola Gejala

          Strategi yang umum digunakan mencakup:

          1. Terapi hormonal

            Terapi hormon termasuk penggunaan obat seperti kontrasepsi oral kombinasi, hormon progestin, atau hormon agonis/antagonis gonadotropin untuk menekan siklus menstruasi dan mengurangi pertumbuhan jaringan endometrium sehingga gejala nyeri dapat berkurang.

            2. Obat anti-inflamasi non-steroid (OAINS)

              OAINS digunakan untuk meredakan nyeri akut dan inflamasi sebagai langkah awal pengelolaan gejala.

              3. Intervensi bedah 

                Pada kasus nyeri hebat yang tidak respon terhadap terapi medis, laparoskopi (operasi dengan luka sayat minimal) dapat dipertimbangkan untuk mengangkat lesi endometriosis yang menyebabkan peradangan dan perlekatan.

                4. Pendekatan tambahan

                  Beberapa pendekatan tambahan seperti fisioterapi, perubahan gaya hidup, atau terapi psikologis dapat membantu meningkatkan kenyamanan dan aktivitas sehari-hari yang lebih baik.

                  Saat Tujuan Utamanya adalah Program Hamil

                  Pertimbangan utama dalam pendekatan kehamilan mencakup:

                  1. Hindari terapi hormonal yang menghambat ovulasi

                    Terapi seperti kontrasepsi hormonal atau hormon agonis/antagonis gonadotropin sangat baik untuk meredakan nyeri, namun karena efeknya yang menekan ovulasi (pengeluaran sel telur), strategi ini perlu dihindari bila tujuan utama adalah kehamilan dalam waktu dekat. 

                    2. Evaluasi anatomi dan pembedahan selektif

                      Pada beberapa kasus, pembedahan laparoskopi dapat membantu dengan menghilangkan lesi yang menghambat saluran indung telur atau perlekatan yang dapat mengganggu kesuburan, meningkatkan kemungkinan kehamilan spontan atau melalui teknologi reproduksi berbantu. Namun perlu diingat, tidak semua operasi akan menghasilkan luaran yang baik untuk program hamil. Pada kasus cadangan sel telur rendah dan atau endometriosis yang sangat berat, operasi kadang tidak meningkatkan peluang hamil.

                      3. Pendekatan berbasis kesuburan

                        Pada pasien dengan kesulitan hamil yang signifikan, konsultasi dengan spesialis obstetri ginekologi konsultan fertilitas dan penggunaan teknik reproduksi berbantu seperti inseminasi intrauterin (IUI) atau fertilisasi in vitro (IVF)/ bayi tabung bisa menjadi salah satu bagian dari strategi terapi.

                        Pertimbangan Pendekatan Reproduksi Terbantu

                        Pada sebagian pasien endometriosis, pendekatan reproduksi terbantu dapat dipertimbangkan berdasarkan kondisi klinis dan dinamika penyakit:

                        1. Terapi endometriosis sering bersifat menekan menstruasi dan ovulasi

                          Banyak terapi medis untuk mengendalikan endometriosis bekerja dengan menekan siklus menstruasi, sehingga kehamilan hanya dapat terjadi setelah terapi dihentikan dan ovulasi kembali. Pada kondisi tertentu, pendekatan reproduksi terbantu dapat mempersingkat waktu menuju kehamilan.

                          2. Kehamilan adalah target yang dapat dicapai pada waktu emas

                            Endometriosis merupakan penyakit progresif yang dapat mempengaruhi cadangan ovarium (sel telur) dan kualitas sel telur seiring waktu. Oleh karena itu, pada pasien dengan usia reproduktif lanjut (terutama lebih dari 35 tahun) atau cadangan ovarium menurun, strategi yang lebih terarah untuk mencapai kehamilan perlu dilakukan.

                            3. Konsepsi alami tidak selalu tercapai dan penundaan dapat berdampak buruk

                              Bila kehamilan tidak tercapai secara spontan dalam periode waktu yang ditentukan (lebih dari 12 bulan, atau 6 bulan pada usia lebih dari 35 tahun), keparahan endometriosis dan pembentukan perlekatan dapat mengurangi peluang kesuburan di kemudian hari. Dalam konteks ini, teknologi reproduksi berbantu dapat menjadi salah satu opsi untuk memaksimalkan peluang kehamilan.

                              Apakah Harus Memilih Salah Satu?

                              Dalam praktik klinis, pengelolaan endometriosis tidak selalu mengharuskan pilihan yang bersifat mutlak antara mengelola gejala atau fokus pada program hamil. Pendekatan yang lebih realistis dan sering digunakan adalah strategi bertahap dan adaptif. Tujuan perawatan dapat berubah seiring waktu, mengikuti perkembangan kondisi klinis, usia, dan rencana reproduksi. Banyak pasien memulai terapi dengan pengendalian gejala untuk stabilisasi kondisi, kemudian beralih ke program hamil ketika nyeri sudah terkendali.

                              Endometriosis bukan hanya sekadar soal diagnosis, melainkan tentang menentukan arah perawatan yang paling sesuai dengan fase hidup dan tujuan kesehatan saat ini. Tidak ada satupun strategi yang paling tepat untuk semua orang, pengelolaan gejala dan fokus program hamil memiliki peran dan waktu masing-masing. Dengan menetapkan tujuan sejak awal, mempertimbangkan faktor klinis secara menyeluruh, serta melakukan evaluasi berkala, rencana perawatan dapat disesuaikan secara dinamis dan realistis. Pendekatan yang terpersonalisasi, bertahap, dan berpusat pada pasien memungkinkan kualitas hidup tetap terjaga sekaligus membuka peluang terbaik untuk hamil ketika waktunya tepat.

                              Referensi:

                              • Crump J, Suker A, White L. Endometriosis: A review of recent evidence and guidelines. Aust J Gen Pract. 2024 Jan [cited 2026 Jan 5];53(1–2):11–18. doi:10.31128/AJGP/04-23-6805.
                              • Petraglia F, Vannuccini S, Santulli P, Marcellin L, Chapron C. An update for endometriosis management: a position statement. J Endometriosis Uterine Disord. 2024 [cited 2026 Jan 5];6:100062. doi:10.1016/j.jeud.2024.100062.
                              • Saunders PTK, Horne AW. Endometriosis: new insights and opportunities for relief of symptoms. Biol Reprod. 2025 Nov 14 [cited 2026 Jan 5];113(5):1029–1043. doi:10.1093/biolre/ioaf164. PMID:40704733; PMCID:PMC12621312.
                              • Tijani E, Ajayi L, Tijani O, Akano O, Ajayi A. Current and emerging therapies for endometriosis-associated pain: a review. Middle East Fertil Soc J. 2025 [cited 2026 Jan 5];30:21. doi:10.1186/s43043-025-00221-0.
                              • Mick I, Freger SM, van Keizerswaard J, Gholiof M, Leonardi M. Comprehensive endometriosis care: a modern multimodal approach for the treatment of pelvic pain and endometriosis. Ther Adv Reprod Health. 2024 Sep 23 [cited 2026 Jan 5];18:26334941241277759. doi:10.1177/26334941241277759.
                              • Quevedo A, Pasic R, Connor A, Chamseddine P. Fertility-sparing endometriosis surgery: a review. Gynecol Obstet Clin Med. 2021 [cited 2026 Jan 5];1(3):112–118. doi:10.1016/j.gocm.2021.07.002.
                              • Vatsa R, Sethi A. Impact of endometriosis on female fertility and the management options for endometriosis-related infertility in reproductive age women: a scoping review with recent evidences. Middle East Fertil Soc J. 2021 [cited 2026 Jan 5];26:29. doi:10.1186/s43043-021-00082-3.
                              • Elizur SE, Mostafa J, Berkowitz E, Orvieto R. Endometriosis and infertility: pathophysiology, treatment strategies, and reproductive outcomes. Arch Gynecol Obstet. 2025 Oct [cited 2026 Jan 5];312(4):1037–1048. doi:10.1007/s00404-025-08124-1.
                              • Al Hussaini HAD, Alatawi ESE, Shabani JAJ, Edhrabooh MIH, Alhawaj SAA, Almahfoodh MS, et al. Management of endometriosis-related pain: comparing the effectiveness of hormonal therapy, surgical interventions, and complementary therapies. Cureus. 2024 Dec 12 [cited 2026 Jan 5];16(12):e75590. doi:10.7759/cureus.75590.
                              • Qiao X, Zhong Y, Cao Q, Huang X, Li F, Wang R, et al. Interventions for endometriosis-related pain and infertility: a protocol for systematic review and network meta-analysis. BMJ Open. 2025 Nov 13 [cited 2026 Jan 5];15(11):e105382. doi:10.1136/bmjopen-2025-105382.
                              • Piriyev E, Schiermeier S, Römer T. Hormonal treatment of endometriosis: a narrative review. Pharmaceuticals (Basel). 2025 Apr 17 [cited 2026 Jan 5];18(4):588. doi:10.3390/ph18040588

                              Disusun oleh:

                              • Dr. dr. Kanadi Sumapraja, Sp.OG, Subsp.FER, M. Sc, – Klaster Human Reproduction, Infertility, and Family Planning (HRIFP), IMERI – Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
                              • Clarisa Celine Salim, – Mahasiswi Pendidikan Profesi Dokter FKUI

                              Artikel ini merupakan kerjasama antara komunitas Endometriosis Indonesia dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

                              Tak Perlu Bingung Lagi!
                              Ukur Tingkat Kondisi Endometriosis Anda Disini