Ketika Tubuh Berbicara: Menilai Efektivitas Terapi Hormon pada Endometriosis

Endometriosis adalah penyakit kronis yang terjadi ketika jaringan yang mirip dengan lapisan dalam rahim tumbuh di luar rahim. Hidup dengan endometriosis sering kali terasa seperti mengarungi perjalanan panjang dengan jalan yang tidak selalu rata. Endometriosis bukan sekedar menyebabkan “nyeri haid”, melainkan kondisi kompleks lainnya seperti nyeri panggul kronis, nyeri saat berhubungan seksual, gangguan kesuburan, yang tentunya berdampak besar pada kesehatan mental dan kualitas hidup sehari-hari.

Hingga saat ini, endometriosis belum memiliki terapi yang benar-benar menyembuhkan. Karena penyakit ini sangat dipengaruhi oleh hormon, terutama estrogen, salah satu terapi utama yang sering direkomendasikan adalah terapi hormon. Terapi hormon bukanlah “obat ajaib” yang menyembuhkan, melainkan untuk menenangkan gejala, mengurangi peradangan, dan menstabilkan hormon yang mempengaruhi perjalanan endometriosis. Namun, respon setiap tubuh berbeda. Ada yang merasakan perbaikan cepat, ada yang membutuhkan waktu lebih panjang, dan ada pula yang perlu menyesuaikan jenis terapi.

Karena itu, penting bagi EndoSisters untuk memahami bagaimana mengevaluasi efektivitas terapi hormon—dengan cara yang realistis dan selaras dengan kebutuhan hidup masing-masing

Apa Itu Terapi Hormon pada Endometriosis?

Berdasarkan panduan internasional seperti ESHRE, HIFERI, dan ACOG, terapi hormon menjadi salah satu pilar utama penanganan, yang bekerja dengan “mengendalikan” aktivitas hormon estrogen yang merangsang pertumbuhan jaringan dan proses peradangan endometriosis. Terapi hormon bukan solusi tunggal, melainkan salah satu dalam strategi jangka panjang menghadapi endometriosis.

Jenis terapi hormon yang digunakan berdasarkan bukti ilmiah meliputi:

  1. Progestin saja (oral, suntik, atau implan)
    Progestin, dengan sejumlah jenis yang termasuk dalam kelompoknya, dapat diberikan dalam bentuk oral, suntikan, implan, maupun melalui alat yang dimasukkan ke dalam rahim. Banyak panduan menyebut progestin sebagai terapi awal yang digunakan karena efektif mengontrol nyeri dan juga aman. Pada alat yang dimasukkan dalam rahim, hormon yang dilepaskan bekerja terfokus dalam rahim sehingga membantu mengurangi nyeri dan jumlah darah haid.
  2. Pil Kontrasepsi Kombinasi
    Dahulu digunakan sebagai terapi lini pertama dikarenakan kemudahan akses terhadap obat ini. Pemberian pil kontrasepsi akan menekan produksi hormon yang berasal dari indung telur sehingga diharapkan aktifitas dan progresivitas endometriosis dapat dikendalikan.
  3. Agonis GnRH
    Terapi ini umumnya diberikan dalam bentuk suntikan, dan bekerja dengan menurunkan hormon estrogen menjadi sangat rendah (menyerupai kondisi menopause). Efektif untuk nyeri sedang–berat, namun memiliki efek samping sehingga penggunaannya umumnya dibatasi waktu.

Mengapa Efektivitas Terapi Hormon Perlu Dievaluasi?

Tidak semua EndoSisters merespons terapi hormon dengan cara yang sama. Perubahan yang terjadi bisa bertahap, atau bahkan tidak terasa dalam beberapa minggu pertama. Selain itu, terapi hormon dapat menimbulkan efek samping seperti perubahan suasana hati, perdarahan bercak maupun tidak teratur, atau keluhan yang mirip dirasakan oleh perempuan menopause. Evaluasi yang teratur membantu memastikan bahwa:

  • Terapi memberikan manfaat nyata
  • Efek samping tetap dapat ditoleransi
  • Terapi sesuai dengan tujuan hidup dan kondisi individu
  • Penyesuaian dapat dilakukan bila diperlukan

Bagaimana Cara Menilai Efektivitas Terapi Hormon?

Jadi bagaimana sih cara EndoSisters dapat mengevaluasi efektivitas terapi hormon? Ada beberapa parameter nih yang bisa dievaluasi:

1. Perubahan pada Gejala Nyeri

Nyeri adalah gejala paling khas pada endometriosis. Penurunannya merupakan indikator penting efektivitas terapi, maka catat perubahan nyeri pada: 

  • Nyeri haid (dismenorea)
  • Nyeri panggul sehari-hari
  • Nyeri saat berhubungan seksual

EndoSisters dapat mencatat apakah ada perbaikan gejala nyeri dalam skala nyeri sederhana (skor 0-10) dalam sebuah catatan harian. 

2. Perhatikan Kualitas Hidup

    Efektivitas terapi juga dapat dilihat dari apakah ada peningkatan dalam kualitas hidup.  Pertanyaan reflektif ini dapat membantu:

    • Apakah Anda lebih mampu menjalani aktivitas harian?
    • Apakah kehadiran di sekolah atau tempat kerja membaik?
    • Apakah tidur lebih nyenyak?
    • Apakah kecemasan dan mood lebih stabil?

    Beberapa panduan merekomendasikan penggunaan kuesioner kualitas hidup khusus endometriosis, namun catatan harian sederhana pun sangat membantu.

    3. Amati Perubahan Pola Menstruasi

      Terapi hormon biasanya membuat haid menjadi:

      • lebih ringan
      • lebih singkat
      • lebih jarang
      • atau bahkan berhenti (pada penggunaan kontinu)

      Ini adalah efek yang normal, bukan tanda bahaya, dan sering kali menunjukkan bahwa terapi bekerja menekan aktivitas estrogen.

      Namun, perdarahan bercak yang berkepanjangan, terutama jika mengganggu aktivitas, sebaiknya didiskusikan bersama dokter.

      4. Perhatikan Efek Samping 

        Efek samping adalah bagian dari perjalanan terapi. Beberapa yang mungkin muncul:

        • Mood naik turun
        • Mual ringan
        • Jerawat
        • Perubahan berat badan
        • Perdarahan tidak teratur di awal terapi

        Tidak semua efek samping berarti terapi tidak cocok, panduan internasional menekankan bahwa banyak efek samping ringan akan membaik setelah 2–3 bulan adaptasi tubuh.

        Yang harus dilakukan adalah menilai:

        • Apakah efek samping ini mengganggu aktivitas?
        • Apakah manfaat lebih besar dari ketidaknyamanannya?
        • Apakah ada alternatif lebih sesuai?

        Dokter dapat membantu menyesuaikan dosis atau jenis terapi bila diperlukan.

        5. Pemeriksaan Klinis dan Penunjang bila perlu

          Terapi hormon tidak selalu membuat ukuran lesi endometriosis mengecil. Seperti yang ditegaskan oleh panduan internasional: “Keberhasilan terapi hormon dinilai dari perbaikan gejala, bukan dari perubahan ukuran lesi pada USG/MRI.” 

          Oleh karena itu, pemeriksaan penunjang berperan sebagai alat bantu, bukan penentu utama keberhasilan terapi.

          Jadi, Kapan Terapi Hormon Dinilai Efektif?

          Terapi hormon tidak bekerja secara instan. Evaluasi awal biasanya dilakukan setelah 3–6 bulan penggunaan, setelah itu, evaluasi berkala dilakukan berdasarkan kebutuhan dan respons tubuh. Tidak semua EndoSister cocok menggunakan terapi hormon tertentu, misalnya karena suatu kondisi medis atau efek samping yang tidak dapat ditoleransi. Oleh karena itu, follow-up rutin dengan dokter sangat penting untuk memantau manfaat, efek samping, dan kebutuhan penyesuaian terapi. 

          Selain itu, evaluasi terapi hormon perlu mempertimbangkan kesesuaian terapi dengan tujuan hidup EndoSister. Setiap EndoSister tentu memiliki prioritas yang berbeda, termasuk rencana kehamilan, pekerjaan, dan aktivitas sehari-hari. Terapi yang efektif secara klinis harus tetap selaras dengan nilai dan tujuan pribadi EndoSister. Oleh karena itu, penting untuk mengambil keputusan bersama antara EndoSister dan tenaga medis dalam menilai keberlanjutan terapi.

          Di sinilah peran aktif EndoSister menjadi sangat penting—mencatat gejala, memahami perubahan tubuh sendiri, serta menjalin komunikasi terbuka dengan dokter. Pendekatan ini membantu pengambilan keputusan bersama yang lebih tepat dan manusiawi.

          Kesimpulan

          Mengevaluasi efektivitas terapi hormon pada endometriosis berarti melihat lebih dari sekadar hasil pemeriksaan, yang utama adalah bagaimana EndoSister merasa dan menjalani hidup sehari-hari. Keberhasilan terapi bersifat individual dan memerlukan waktu, evaluasi rutin, serta komunikasi yang baik.

          Sebagai pengingat sederhana, EndoSister bisa menggunakan singkatan “NYATA”:

          • Nyeri berkurang
          • Yakin kualitas hidup membaik
          • Aktivitas sehari-hari lebih lancar
          • Toleransi efek samping baik
          • Arah terapi dievaluasi bersama dokter

          Endometriosis adalah perjalanan panjang, tetapi dengan pendekatan berbasis bukti, realistis, dan penuh empati, EndoSister tidak berjalan sendirian.

          Referensi

          1. European Society of Human Reproduction and Embryology (ESHRE). Endometriosis Guideline. 2022.
          2. HIFERI. Konsensus Tatalaksana Endometriosis. 2024
          3. Piriyev E, Schiermeier S, Römer T. Hormonal Treatment of Endometriosis: A Narrative Review. Pharmaceuticals (Basel). 2025 Apr 17;18(4):588. doi: 10.3390/ph18040588.
          4. Lee HJ, Yoon SH, Lee JH, Chung YJ, Park SY, Kim SW, et al. Clinical evaluation and management of endometriosis: 2024 guideline for Korean patients from the Korean Society of Endometriosis. Obstet Gynecol Sci. 2025 Jan;68(1):43-58. doi: 10.5468/ogs.24242.
          5. Vannuccini S, Clemenza S, Rossi M, Petraglia F. Hormonal treatments for endometriosis: The endocrine background. Rev Endocr Metab Disord. 2022 Jun;23(3):333-55. doi: 10.1007/s11154-021-09666-w.

          Disusun oleh:

          • Dr. dr. Achmad Kemal Harzif, Sp.OG, Subsp. FER, Staf Divisi Immunoendokrinologi Reproduksi, Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
          • Amelia Dhiaulhaq, Mahasiswi Pendidikan Profesi Dokter FKUI

          Artikel ini merupakan kerjasama antara komunitas Endometriosis Indonesia dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

          Tak Perlu Bingung Lagi!
          Ukur Tingkat Kondisi Endometriosis Anda Disini