Dalam beberapa bulan terakhir, dunia kedokteran dikejutkan dengan sebuah penelitian yang menyatakan bahwa endometriosis memiliki karakteristik-karakteristik yang erat dikaitkan pada kanker. Jika begitu, apakah endometriosis adalah kanker? Apa hubungan penelitian kanker dengan pengobatan endometriosis? Sebuah tinjauan ilmiah membahas beberapa kemiripan proses biologis pada kedua penyakit tersebut, termasuk cara sel tumbuh dan menggunakan energi. Kemiripan ini tidak berarti endometriosis adalah kanker, tetapi dapat membantu peneliti mencari pendekatan pengobatan terbaru. Salah satu senyawa yang sedang diteliti adalah dichloroacetate (DCA), yang juga dipelajari sebagi calon terapi kanker. Penelitian ini diharapkan dapat menambah pilihan penanganan endometriosis yang saat ini mencakup obat pereda nyeri, terapi hormonal, dan operasi sesuai kebutuhan pasien.
Kemipiran Proses Biologis antara Endometriosis dan Kanker
Endometriosis adalah penyakit nonkanker yang ditandai oleh pertumbuhan jaringan menyerupai lapisan dalam rahim di luar rongga rahim. Endometriosis bisa dijumpai pada hampir setiap organ tubuh, seperti indung telur, usus, bahkan paru-paru. Endometriosis menyebabkan penderitanya mengalami nyeri hebat berkepanjangan karena radang yang ditimbulkan. Beberapa proses biologi pada endometriosis juga ditemukan pada kanker.
- Endometriosis memiliki pengaturan pertumbuhan abnormal yang mempengaruhi kelangsungan hidup sel, atau hiperproliferasi, terutama karena pertumbuhan jaringan endometriosis dipengaruhi oleh hormon estrogen.
- Selain itu, seperti kanker, respons jaringan endometriosis terhadap hormon progesteron, penghambat pertumbuhannya, dapat berkurang.
- Kedua kondisi kronis ini juga pandai bersembunyi dari imun. Fungsi sebagian sel imun di sekitar jaringan endometriosis dapat berubah sehingga pembersihan jaringan tersebut kurang efektif.
- Endometriosis dan kanker sama-sama membekukan “jam pasir sel” yang menjadwalkan penuaan sel sehingga sel bisa terus membelah tanpa batas usia normal.
- Keduanya juga bersifat invasif. Sel asing ini mampu merayap untuk menempel dan merusak di organ apa saja.
- Saat kehabisan oksigen, sel endometriosis dan kanker memicu pembentukan pembuluh darah baru untuk mendapatkan oksigen dan nutrisi dari tubuh.
- Sel endometriosis sulit “mati”. Sel yang salah tempat biasanya otomatis menghancurkan dirinya sendiri. Pada endometriosis, fitur ini melemah sehingga sel yang tersasar tetap hidup di luar rahim.
- Keduanya punya “gaya makan” yang berbeda dari sel normal. Sel kanker memakai gula dengan cara boros dan menghasilkan banyak hasil metabolisme bernama laktat. Pola yang mirip juga ditemukan pada endometriosis. Pada perempuan dengan endometriosis, jumlah laktat di cairan yang membasahi rongga panggul lebih tinggi dari normal. Laktat membantu sel endometriosis menembus jaringan sekitar, memancing tumbuhnya pembuluh darah baru, dan membuat sistem imun lebih lemah.
Jadi, Apakah Endometriosis Itu Kanker?
Endometriosis bukan kanker. Namun, penyakit ini tetap perlu mendapat perhatian karena dapat menimbulkan nyeri, mengganggu kesuburan, dan menurunkan kualitas hidup. Pada sebagian kecil kasus, jaringan endometriosis dapat mengalami perubahan menjadi ganas, terutama pada indung telur. Endometriosis juga berkaitan dengan peningkatan risiko beberapa jenis kanker indung telur, khususnya tipe sel jernih dan endometrioid. Meski demikian, sebagian besar perempuan dengan endometriosis tidak mengalami kanker. Karena itu, penanganan dan pemantauan perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien bersama dokter.
Obat Kanker untuk Endometriosis?
Sama halnya, ilmu penanganan endometriosis juga mulai “meminjam trik” penanganan kanker. Dari delapan sifat tadi, “gaya makan” sel menjadi salah satu proses yang sedang diteliti sebagai sasaran pengobatan. Salah satu pilihan obat dalam penanganan kanker, dichloroacetate atau DCA, yang memanfaatkan mekanisme pembentukan laktat, sedang dilirik untuk menjadi obat yang potensial untuk menangani endometriosis. Dalam hal ini, DCA bekerja seperti tombol reset pada pabrik energi sel atau mitokondria yang sebelumnya mengalami disfungsi. DCA diteliti karena dapat memengaruhi cara sel mengolah energi. Dalam penelitian laboratorium, DCA menurunkan produksi laktat pada sel pelapis rongga panggul dari perempuan dengan endometriosis. Penelitian pada mencit juga menunjukkan penurunan ukuran lesi endometriosis. Temuan ini menjadi dasar penelitian lebih lanjut, tetapi belum membuktikan bahwa DCA dapat memberikan manfaat yang sama pada pasien.
Terobosan ini menawarkan sejumlah keunggulan yang menjadikannya harapan baru bagi perempuan dengan endometriosis. Pertama, terapi non-hormonal ini berpotensi menjadi pilihan pengobatan tambahan di masa depan bagi pasien yang tidak cocok, resisten, atau ingin menghindari efek samping jangka panjang dari obat-obatan berbasis hormon seperti pil KB atau agonis GnRH. Kedua, pendekatan ini berfokus pada salah satu proses biologis yang berbeda, dengan tidak hanya menutupi atau meredakan rasa sakit sementara seperti obat antinyeri biasa, tetapi menargetkan metabolisme inti dari sel endometriosis itu sendiri.
Meskipun menjadi salah satu obat yang ke depannya berpotensi menjadi pilihan penanganan endometriosis, penggunaan DCA tanpa pengawasan dokter bukan langkah yang tepat! Selalu ikuti anjuran dan penanganan yang telah dianjurkan oleh dokter yang merawat Endosisters.
Mendalami sifat endometriosis, dengan meminjam sudut pandang dari dunia penelitian kanker, membuka pintu harapan bahwa penanganan endometriosis bisa jauh lebih personal dan efektif. Ke depannya, eksplorasi penanganan endometriosis dengan menargetkan proses yang mendasari penyakit ini diharapkan membawa kita selangkah lebih dekat pada pilihan pengobatan yang lebih baik bagi para Endosisters.
Referensi
- Ellis K, Wood R. Endometriosis and the hallmarks of cancer. Reprod Sci. 2026 Jan;33(1):32-46. doi: 10.1007/s43032-025-02024-0.
- Horne AW, Ahmad SF, Carter R, Simitsidellis I, Greaves E, et al. Repurposing dichloroacetate for the treatment of women with endometriosis. Proc Natl Acad Sci U S A. 2019 Dec 17;116(51):25389-25391. doi: 10.1073/pnas.1916144116.
- Leow HW, Koscielniak M, Williams L, Saunders PTK, Daniels J, et al. Dichloroacetate as a possible treatment for endometriosis-associated pain: a single-arm open-label exploratory clinical trial (EPiC). Pilot Feasibility Stud. 2021 Mar 12;7(1):67. doi: 10.1186/s40814-021-00797-0.
- Neykhonji M, Al-Asady AM, Akbarzadeh H, Avan A, Khazaei M, et al. Anti-cancer drugs in endometriosis management: Mechanisms and Therapeutic Potential. Curr Pharm Des. 2026;32(17):1308-1325. doi: 10.2174/0113816128387356250720042300.
- Santhamma B, Chacon J, Deemer E, Stary D, Hernandez SA, et al. Endometriosis from initiation to innovation: Immune microenvironments, clonal lesion biology, and the emerging therapeutic pipeline. Cancer Lett. 2026 Sep 19;660:218845. doi: 10.1016/j.canlet.2026.218845.
Disusun oleh:
- Prof. Dr. dr. R. Muharam Natadisastra, Sp. O.G, Subsp. F.E.R., MPH. – Klaster Human Reproduction, Infertility, and Family Planning (HRIFP), IMERI – Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
- Tiara Maritza Ermizal – Mahasiswa Pendidikan Profesi Dokter FKUI
Artikel ini merupakan kerjasama antara komunitas Endometriosis Indonesia dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia