“Endometriosis? Berarti nanti susah hamil dan harus bayi tabung ya?”
Kalimat seperti ini mungkin pernah endosisters dengar sebelumnya. Dan walaupun ada nuansa kebenaran di dalamnya, realitanya jauh lebih bernuansa dan penuh harapan dari yang dibayangkan. Tidak semua perempuan dengan endometriosis mengalami kesulitan dalam mencapai kehamilan, dan tidak semua yang kesulitan hamil memerlukan fertilisasi in vitro (IVF) atau bayi tabung sebagai langkah pertama.
Pertanyaan tentang kesuburan adalah salah satu yang paling banyak muncul dari perempuan yang baru didiagnosis endometriosis. Menjawabnya membutuhkan pemahaman yang berbasis bukti dan penuh empati. Artikel ini hadir untuk membantu endosisters memetakan pilihan-pilihan yang ada, kita perlu terlebih dahulu memahami bagaimana endometriosis dapat memengaruhi kesuburan.
Bagaimana Endometriosis Dapat Memengaruhi Kesuburan?
Endometriosis dapat memengaruhi kesuburan melalui beberapa mekanisme utama:
- Penurunan cadangan indung telur → kista endometriosis (endometrioma) di dapat mengurangi jumlah cadangan sel telur.
- Perlengketan (adhesion) pada tuba dan panggul → perlekatan dapat menghambat fungsi saluran tuba, sehingga pertemuan sel telur dan sperma menjadi terganggu.
- Peradangan di rongga panggul → lingkungan yang meradang dapat memengaruhi kualitas sel telur, proses pembuahan, dan perkembangan embrio.
- Gangguan pada proses implantasi → perubahan pada lingkungan rahim dapat memengaruhi menempelnya embrio pada dinding rahim.
Memahami mekanisme ini penting, karena penanganan yang tepat akan menyasar faktor yang paling berperan pada masing-masing individu.
Endometriosis dan Kesuburan: Seberapa Besar Risikonya?
Endometriosis memang berhubungan dengan peningkatan risiko infertilitas/gangguan kesuburan. Sekitar 25–50% perempuan yang mengalami kesulitan hamil ditemukan memiliki endometriosis, dan sekitar 30–50% perempuan dengan endometriosis mengalami kesulitan untuk hamil.
Namun, penting untuk dipahami: memiliki endometriosis bukan berarti tidak bisa hamil alami, karena peluang kehamilan dipengaruhi berbagai faktor. ESHRE (European Society of Human Reproduction and Embryology) menekankan bahwa penanganan infertilitas terkait endometriosis harus disesuaikan dengan kondisi setiap individu.
Berbagai faktor yang memengaruhi kesuburan meliputi:
- usia
- derajat dan lokasi endometriosis
- kondisi saluran tuba
- cadangan (jumlah sel telur yang tersisa)
- kondisi kesehatan pasangan
Memahami Derajat Endometriosis (Klasifikasi rASRM)
Untuk membantu menentukan pilihan terapi, dokter menggunakan sistem klasifikasi dari ASRM (American Society for Reproductive Medicine), sistem ini memberi skor berdasarkan jumlah, kedalaman, dan lokasi lesi endometriosis, serta ada tidaknya perlekatan dan endometrioma. Berdasarkan total skor tersebut, endometriosis dibagi menjadi empat derajat, dari minimal, ringan, sedang, dan berat.
Bukan “one size fits all”
Panduan klinis dari ESHRE dan ASRM (American Society for Reproductive Medicine) menegaskan bahwa penanganan infertilitas terkait endometriosis harus bersifat individual. Beberapa faktor yang perlu dinilai bersama dokter:
| Apa itu EFI? | Endometriosis Fertility Index (EFI) adalah skor yang membantu memperkirakan peluang kehamilan tanpa ART setelah operasi endometriosis. EFI yang rendah dapat menjadi salah satu pertimbangan untuk memilih ART |
| Faktor | Mengapa Penting? |
| Usia & cadangan | Semakin bertambah usia dan semakin rendah cadangan , semakin berharga setiap bulan yang berlalu dalam perencanaan reproduksi |
| Derajat endometriosis | Derajat I–IV menurut klasifikasi rASRM menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan pilihan terapi. Derajat endometriosis ditentukan oleh dokter yang merawat pasien. |
| Riwayat pembedahan | Operasi berulang pada dapat mengurangi cadangan sel telur |
| Durasi infertilitas | Berapa lama sudah mencoba hamil secara alami tanpa keberhasilan |
| Kondisi pasangan | Analisis sperma dan kondisi umum pasangan menentukan strategi yang paling efektif |
| Tujuan & kesiapan pasien | Kesiapan fisik, mental, dan finansial adalah bagian penting dari keputusan terapi |
Pilihan Sebelum IVF: Apakah Ada Opsi Lain?
| Pilihan | Kapan Dipertimbangkan? | Catatan Penting |
| Konsepsi Alami + Pemantauan | usia <35 thcadangan baikendometriosis derajat ringanTidak ada sumbatan pada tuba fallopi | Secara umum, evaluasi kesuburan dianjurkan setelah 12 bulan mencoba (usia <35 th) Namun bagi endosisters yang endometriosisnya sudah terdiagnosis, lamanya menunggu sebelum memulai terapi perlu didiskusikan langsung dengan dokter. |
| Laparoskopi | Stadium I–II (minimal–ringan)Operative laparoscopy dapat meningkatkan peluang ongoing pregnancy dibandingkan laparoskopi diagnostik saja.EndometriomaOperasi dapat dipertimbangkan untuk meningkatkan peluang kehamilan alami, tetapi bukti manfaatnya masih terbatas dan perlu mempertimbangkan risiko terhadap cadangan .Deep endometriosisBukti bahwa operasi meningkatkan fertilitas masih terbatas, tetapi dapat dipertimbangkan pada pasien simptomatik yang ingin hamil. | Setiap operasi berisiko mengurangi cadangan sel telur, sehingga harus dipertimbangkan bersama dokter |
| IUI (Inseminasi Intrauterin)memasukkan sperma yang sudah diproses langsung ke dalam rongga rahim pada waktu ovulasi | Stadium I–II:IUI dengan stimulasi dapat meningkatkan pregnancy rate dibandingkan expectant management atau IUI tanpa stimulasi.Stadium III–IV:IUI dengan stimulasi dapat dipertimbangkan jika tuba masih paten, tetapi bukti manfaatnya masih terbatas. | Pada derajat ringan, IUI dengan stimulasi dapat meningkatkan peluang kehamilan dibandingkan menunggu atau IUI saja Pada derajat sedang-berat dengan tuba yang masih terbuka, IUI masih dapat dipertimbangkan apabila tuba paten, namun buktinya masih terbatas pada pasangan dengan unexplained infertility, angka kelahiran hidup dilaporkan sekitar 13,1% per siklus |
| IVF / Bayi Tabung | ART, termasuk IVF/ICSI, dapat dilakukan pada infertilitas terkait endometriosis, terutama bila:fungsi saluran tuba tergangguterdapat faktor infertilitas priaEndometriosis Fertility Index (EFI) rendahterapi fertilitas sebelumnya belum berhasil Usia, cadangan , riwayat operasi, kondisi endometriosis, serta tujuan pasien juga menjadi bagian penting dalam menentukan kapan ART sebaiknya dilakukan. | IVF bukan jaminan kehamilan dan tingkat keberhasilan dipengaruhi banyak faktor Angka kelahiran hidup kumulatif sekitar 43,2% pada perempuan tanpa endometriosis, dibandingkan 33,3% pada perempuan dengan deep infiltrating endometriosis atau endometrioma |
| Apakah IVF Menjamin Kehamilan? Perlu dipahami bahwa IVF tidak menjamin kehamilan. Tingkat keberhasilannya dipengaruhi oleh:UsiaKondisi spermakualitas sel telur dan embriokondisi rahim Ekspektasi yang realistis dan komunikasi terbuka dengan dokter adalah dua hal yang sangat penting. |
Pertimbangan Waktu: Mengapa Tidak Boleh Menunda Terlalu Lama?
Perjalanan endometriosis berbeda pada setiap perempuan. Pada sebagian pasien, penyakit dapat berkembang dari waktu ke waktu, sementara cadangan dan peluang kehamilan juga dapat menurun seiring bertambahnya usia. Inilah mengapa evaluasi dan perencanaan sejak awal sangat dianjurkan.
“Dok, tapi saya belum mau hamil sekarang, bagaimana solusinya?”
Bagi endosisters yang masih ingin menunda kehamilan, dapat mendiskusikan kemungkinan preservasi fungsi fertilitas (penyimpanan sel telur atau embrio) bersama dokter, terutama jika khawatir dengan kondisi di masa mendatang. Perlu dipahami bahwa bukti mengenai manfaatnya pada endometriosis masih terus berkembang, sehingga keputusan ini sebaiknya diambil setelah konseling menyeluruh.
Apakah Harus Memilih Sendiri?
Tidak. Pemilihan strategi fertilitas adalah keputusan yang sebaiknya dibuat bersama dokter spesialis obstetri dan ginekologi, khususnya konsultan fertilitas, setelah evaluasi menyeluruh. Tidak ada satu strategi yang sesuai untuk semua orang. Yang terpenting adalah tujuan yang jelas, informasi yang akurat, dan rasa percaya pada tim medis yang mendampingi.
Setiap usaha menuju kehamilan merupakan perjalanan yang berbeda bagi setiap individu, dan setiap langkah yang diambil dengan menyesuaikan kebutuhan endosisters adalah langkah yang sangat bermakna.
Referensi:
- Becker CM, et al; ESHRE Endometriosis Guideline Group. ESHRE guideline: endometriosis. Hum Reprod Open. 2022;2022(2):hoac009.
- Revised American Society for Reproductive Medicine classification of endometriosis: 1996. Fertil Steril. 1997;67(5):817–21.
- Practice Committee of ASRM. Endometriosis and infertility: a committee opinion. Fertil Steril. 2012;98(3):591–8.
- Elizur SE, et al. Endometriosis and infertility: pathophysiology, treatment strategies, and reproductive outcomes. Arch Gynecol Obstet. 2025;312(4):1037–1048.
- Quevedo A, et al. Fertility-sparing endometriosis surgery: a review. Gynecol Obstet Clin Med. 2021;1(3):112–118.
- Saunders PTK, Horne AW. Endometriosis: new insights and opportunities for relief of symptoms. Biol Reprod. 2025;113(5):1029–1043.
- Vatsa R, Sethi A. Impact of endometriosis on female fertility and the management options for endometriosis-related infertility in reproductive age women: a scoping review with recent evidences. Middle East Fertil Soc J. 2021;26:36.
- Osmanlıoğlu Ş, Şükür YE, Tokgöz VY, Özmen B, Sönmezer M, Berker B, Aytaç R, Atabekoğlu CS. Intrauterine insemination with ovarian stimulation is a successful step prior to assisted reproductive technology for couples with unexplained infertility. J Obstet Gynaecol. 2022 Apr;42(3):472-477.
- Alson S, Henic E, Jokubkiene L, Sladkevicius P. Endometriosis diagnosed by ultrasound is associated with lower live birth rates in women undergoing their first in vitro fertilization/intracytoplasmic sperm injection treatment. Fertil Steril. 2024 May;121(5):832-841.
- Barnhart K, et al. Effect of endometriosis on in vitro fertilization. Fertil Steril. 2002;77(6):1148–55
Disusun oleh:
- dr. Mila Maidarti, SpOG-KFER, PhD – Klaster Human Reproduction, Infertility, and Family Planning (HRIFP), IMERI – Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
- Fatimah Adzra Khairunnisa – Mahasiswa Pendidikan Profesi Dokter FKUI
Artikel ini merupakan kerjasama antara komunitas Endometriosis Indonesia dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia