Antihistamin: Obat Alergi Kok Bisa Bantu Redakan Nyeri Akibat Endo?

Antihistamin selama ini dikenal sebagai obat alergi. Akan tetapi, penelitian terbaru menunjukkan bahwa histamin juga berperan dalam terjadinya peradangan dan nyeri pada endometriosis. Hal inilah yang membuat antihistamin mulai diteliti sebagai terapi tambahan untuk membantu mengurangi gejala endometriosis. Antihistamin adalah obat untuk membantu meredakan gejala alergi dengan menghambat kerja histamin, yaitu zat yang dilepaskan tubuh saat terjadi reaksi alergi. Antihistamin yang umumnya digunakan dalam praktik sehari-hari adalah antihistamin H1 yang berperan dalam mengatasi gejala alergi. 

Histamin bekerja dengan berikatan pada penerima sinyal yang tersebar di berbagai jaringan tubuh. Histamin merupakan zat alami yang diproduksi tubuh. Dalam jumlah normal, histamin membantu mengatur sistem kekebalan tubuh, fungsi lambung, dan komunikasi antar sel saraf. Namun, saat terjadi reaksi alergi, tubuh dapat melepaskan histamin dalam jumlah yang berlebihan sehingga muncul gejala seperti gatal, bersin, mata berair, hidung meler, dan bentol-bentol di kulit. 

Antihistamin seringkali dikenal sebagai obat alergi karena utamanya digunakan untuk gejala alergi, seperti:

  • Bersin dan hidung meler
  • Mata gatal atau berair
  • Biduran
  • Gatal pada kulit

Selain itu, obat ini bisa dimanfaatkan untuk mabuk perjalanan, mual dan muntah, dan vertigo. Saat ini, antihistamin generasi kedua lebih sering digunakan karena lebih spesifik dan efek kantuk lebih ringan dibandingkan antihistamin generasi pertama. Contohnya adalah cetirizine, loratadine, fexofenadine, dan desloratadine. 

Saat tubuh terpapar zat pencetus (alergen) atau sel imun teraktivasi, sel mast dan basofil akan melepaskan histamin. Antihistamin bekerja dengan menempel pada reseptor H1, yaitu tempat histamin biasanya bekerja. Dengan demikian, histamin tidak dapat memicu gejala alergi sehingga rasa gatal, bersin, kemerahan, bengkak, dan produksi lendir dapat berkurang. Antihistamin digunakan untuk meredakan gejala yang disebabkan oleh histamin, bukan menghilangkan penyebab penyakitnya.

Bagaimana antihistamin bisa mengurangi gejala endometriosis ? 

Antihistamin selama ini mungkin sering dikenal sebagai obat untuk mengatasi alergi, padahal penelitian terbaru menunjukkan bahwa histamin juga berperan dalam mekanisme nyeri dan inflamasi pada endometriosis. Oleh karena itu, antihistamin mulai dipelajari sebagai terapi tambahan untuk membantu mengurangi gejala endometriosis, terutama nyeri panggul kronis. Hingga saat ini, antihistamin belum menjadi terapi standar dalam penanganan endometriosis. Berikut merupakan hubungan histamin dengan gejala endometriosis.

1. Sel mast dan histamin berperan dalam timbulnya nyeri endometriosis

Lesi endometriosis mengandung jumlah sel mast yang lebih tinggi dibandingkan jaringan normal. Sel mast merupakan sel imun yang akan melepaskan berbagai sinyal radang, termasuk histamin, sitokin, prostaglandin, dan nerve growth factor (NGF). Zat-zat ini menimbulkan inflamasi yang memperburuk nyeri. Pemberian antihistamin dapat mengurangi gejala yang timbul akibat histamin.

2. Histamin meningkatkan kepekaan saraf nyeri

Histamin yang dilepaskan oleh sel mast akan berikatan dengan reseptor H1 pada ujung saraf nyeri. Aktivasi reseptor ini mengaktifkan sinyal di dalam sel yang meningkatkan pelepasan sinyal saraf. Dampak yang timbul adalah sebagai berikut:

  • Ambang rangsang nyeri menjadi lebih rendah 
  • Saraf lebih mudah menghantarkan sinyal nyeri.
  • Terjadi peningkatan kepekaan di sistem saraf pusat sehingga nyeri dapat bertahan lebih lama dan terasa lebih berat.

3. Antihistamin dapat menghambat efek histamin

Antihistamin H1 bekerja dengan menghambat ikatan histamin pada reseptor H1. Melalui mekanisme ini, antihistamin berpotensi:

  • Mengurangi aktivasi saraf penghantar nyeri.
  • Mengecilkan dan menahan rembesan pembuluh darah yang dipicu histamin.
  • Mengurangi bengkak dan datangnya sel radang.
  • Membantu menurunkan kepekaan saraf yang berkontribusi terhadap nyeri kronis.

4. Antihistamin memiliki efek antiinflamasi

Selain menghambat sinyal histamin, beberapa antihistamin diketahui memiliki efek antiinflamasi yang lebih luas. Penelitian menunjukkan bahwa antihistamin dapat mengurangi rekrutmen dan aktivasi berbagai sel imun serta menekan pelepasan sinyal radang seperti TNF-α, NF-κB, dan zat yang berperan dalam perkembangan endometriosis. Efek ini diduga ikut berkontribusi dalam mengurangi inflamasi kronis dan nyeri.

Apa hal penting yang harus diketahui?

Beberapa hal penting yang perlu dipahami sebelum mempertimbangkan penggunaannya, yaitu sebagai berikut:

1. Antihistamin bukan terapi standar endometriosis

Hingga saat ini, pedoman internasional ESHRE Guideline on Endometriosis (2022) belum merekomendasikan antihistamin sebagai pengobatan rutin untuk endometriosis. Terapi yang direkomendasikan tetap meliputi:

  • Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) untuk mengurangi nyeri.
  • Terapi hormonal (misalnya pil kontrasepsi kombinasi, progestin, agonis/antagonis GnRH).
  • Operasi pada pasien dengan indikasi tertentu.

2. Bukti klinis pada manusia masih terbatas

Sebagian besar bukti mengenai manfaat antihistamin berasal dari penelitian laboratorium (in vitro), penelitian pada hewan, dan studi observasional dan kajian mekanistik. Sampai saat ini, belum tersedia uji klinis berskala besar yang dapat memastikan bahwa antihistamin efektif dan aman sebagai terapi nyeri endometriosis pada manusia. Oleh karena itu, manfaatnya masih dianggap sebagai potensi, bukan terapi yang telah terbukti.

3. Tidak semua penderita endometriosis memiliki mekanisme nyeri yang sama

Nyeri pada endometriosis bersifat personal dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi peradangan, ketidakseimbangan hormon, kepekaan terhadap rasa nyeri meningkat, perlengketan, hingga faktor psikologis. Histamin hanyalah salah satu zat yang terlibat dalam proses nyeri. Maka dari itu, antihistamin tidak dapat menjamin manfaat yang sama pada semua pasien.

4. Antihistamin bukan pengganti terapi utama

Antihistamin berpotensi untuk digunakan sebagai terapi tambahan, bukan sebagai pengganti terapi hormonal, obat pereda nyeri, ataupun tindakan operasi bila diperlukan. Antihistamin merupakan terapi yang saat ini sedang diteliti sebagai terapi tambahan pada endometriosis. Meskipun hasil penelitian awal menunjukkan manfaat, bukti ilmiah yang tersedia masih belum cukup untuk digunakan sebagai terapi rutin

Apa langkah selanjutnya? 

Sebagian antihistamin dapat dibeli tanpa resep dokter. Namun, bukan berarti obat ini dapat digunakan oleh semua orang dan untuk semua kondisi. Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan sebelum mengonsumsi antihistamin agar penggunaannya tetap bermanfaat, aman, dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

  • Indikasi yang sesuai.
  • Efek samping, seperti kantuk, mulut kering, dan gangguan konsentrasi.
  • Interaksi dengan obat lain.
  • Kondisi medis tertentu, seperti kehamilan, menyusui, atau penyakit penyerta.

Terapi yang diberikan perlu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan tubuh masing-masing orang. Jika Endosisters ingin menggunakan antihistamin sebagai bagian dari penanganan endometriosis, diskusikan terlebih dahulu dengan dokter spesialis kandungan dan kebidanan kamu, ya!

Referensi

  • Ford AC, Moayyedi P, Black CJ, Yuan Y, Veettil SK, Mahadeva S, Kengkla K, Chaiyakunapruk N, Lee YY. Systematic review and network meta-analysis: efficacy of drugs for functional dyspepsia. Aliment Pharmacol Ther. 2021 Jan;53(1):8-21. doi: 10.1111/apt.16072. Epub 2020 Sep 16. PMID: 32936964.
  • Linton S, Hossenbaccus L, Ellis AK. Evidence-based use of antihistamines for treatment of allergic conditions. Ann Allergy Asthma Immunol. 2023 Oct;131(4):412-420. doi: 10.1016/j.anai.2023.07.019. Epub 2023 Jul 28. PMID: 37517656.
  • Li L, Liu R, Peng C, Chen X, Li J. Pharmacogenomics for the efficacy and side effects of antihistamines. Exp Dermatol. 2022 Jul;31(7):993-1004. doi: 10.1111/exd.14602. Epub 2022 May 17. PMID: 35538735.
  • Wang J, Mao X, Zhu L, Zhang X. Unravelling the Intricate Link: Mast Cells and Estrogen-Induced Pain Sensitization in Endometriosis. Int J Biol Sci. 2025 Sep 21;21(13):5891-5904. doi: 10.7150/ijbs.116635. PMID: 41079937; PMCID: PMC12509920.
  • Mantha KB. An opinion on H1-antihistamines as a potential avenue for endometriosis management. AJOG Glob Rep. 2023 Oct 5;3(4):100274. doi: 10.1016/j.xagr.2023.100274. PMID: 37941601; PMCID: PMC10628608.
  • Becker CM, Bokor A, Heikinheimo O, Horne A, Jansen F, Kiesel L, King K, Kvaskoff M, Nap A, Petersen K, Saridogan E, Tomassetti C, van Hanegem N, Vulliemoz N, Vermeulen N; ESHRE Endometriosis Guideline Group. ESHRE guideline: endometriosis. Hum Reprod Open. 2022 Feb 26;2022(2):hoac009. doi: 10.1093/hropen/hoac009. PMID: 35350465; PMCID: PMC8951218.


Disusun oleh:

  • dr. Vita Silvana, Sp.OG, Subsp.FER, PhD – Klaster Human Reproduction, Infertility, and Family Planning (HRIFP), IMERI – Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
  • Albert Jip – Mahasiswa Pendidikan Profesi Dokter FKUI

Artikel ini merupakan kerjasama antara komunitas Endometriosis Indonesia dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Tak Perlu Bingung Lagi!
Ukur Tingkat Kondisi Endometriosis Anda Disini