Seorang perempuan berusia akhir 20-an duduk di ruang tunggu klinik sambil menatap layar ponselnya. Jarinya berhenti pada hasil pemeriksaan laboratorium yang baru saja ia terima. Di antara berbagai istilah medis yang terasa asing, satu parameter terus menarik perhatiannya, AMH, dengan angka yang lebih rendah dari rentang referensi usianya. Beberapa hari sebelumnya, ia baru mengetahui bahwa kista indung telur yang selama ini menyebabkan nyeri hebat saat haid ternyata adalah endometriosis. Pada banyak pasien endometriosis, hasil AMH sering kali menjadi sumber kekhawatiran baru. Namun, apa sebenarnya arti angka ini dan sejauh mana AMH dapat menggambarkan peluang reproduksi seseorang?
Bagaimana Tubuh Kita Bekerja
Untuk mengetahui peran AMH, kita perlu mengetahui bagaimana tubuh kita bekerja. Seorang perempuan lahir dengan seluruh cadangan sel telur yang akan ia miliki seumur hidup di kedua indung telurnya. Sel-sel telur ini awalnya “tertidur” atau bersifat tidak aktif (dorman). Di usia reproduksi, setiap bulannya, sel-sel telur dihadapi oleh tiga nasib: 1) berkembang dan menjadi matang; 2) berkembang tetapi tidak matang atau “kalah” (kemudian mati); atau 3) tetap tertidur.
Ketika beberapa sel telur mulai berkembang di dalam indung telur, sel-sel pendukung di sekitarnya menghasilkan anti-Müllerian hormone (AMH). AMH berfungsi untuk mengatur perkembangan sel telur. Menariknya, karena AMH hanya diproduksi oleh sel penunjang sel-sel telur yang sedang berkembang, AMH juga secara tidak langsung menjadi penanda jumlah cadangan sel telur yang tersedia. Ketika cadangan sel telur masih banyak, lebih banyak sel telur yang akan direkrut untuk berkembang, sehingga AMH dapat diproduksi dalam jumlah yang banyak pula. Sebaliknya, jika cadangan sel telur sudah sedikit (yang secara alami berkurang karena matinya sel telur yang berkembang tetapi “kalah”), tubuh akan mengembangkan lebih sedikit sel telur, menurunkan sel yang dapat memproduksi AMH. Singkatnya, secara alami, kadar AMH akan menurun sejalan dengan menurunnya cadangan sel telur. Nilai AMH normal bervariasi menurut usia dan metode pemeriksaan laboratorium, sehingga interpretasinya harus selalu mempertimbangkan usia. Hormon ini biasanya memuncak di usia 20–25 tahun. Pada perempuan yang sudah menopause, AMH sudah tidak terdeteksi. Gambar 1 menunjukkan grafik perubahan nilai AMH pada perempuan.

Gambar 1. Ilustrasi perubahan jumlah AMH sepanjang hidup perempuan
Endometriosis dan Anti-Müllerian Hormone
Endometriosis adalah kondisi peradangan kronis di mana jaringan yang mirip dengan lapisan rahim menempel di berbagai bagian tubuh, seperti indung telur, otot rahim, atau organ-organ yang lebih jauh, seperti usus, paru-paru, bahkan otak. Selain keluhan nyeri haid hebat, pasien endometriosis juga sering mengalami gangguan kesuburan. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa proses, seperti peradangan kronik, perubahan struktur organ, gangguan penempelan bakal janin, penurunan fungsi indung telur, dan, yang berkaitan dengan AMH, penurunan cadangan sel telur. Namun, bagaimanakah endometriosis bisa memengaruhi nilai AMH?
Endometriosis yang menempel ke tempat “asing” dapat merusak area di sekitarnya dengan menciptakan lingkungan radang yang terus menerus. Radang ini kemudian dapat membentuk jaringan luka, mengganggu pembentukan hormon, dan mengganggu regulasi energi. Pada kasus endometriosis yang menempel di indung telur, atau endometrioma, peradangan ini mudah untuk merusak fungsi dan struktur dari indung telur. Akibatnya, sel telur yang tersimpan dapat menurun kualitas dan kuantitasnya. Tidak hanya dari perjalanan penyakit alaminya, pembedahan yang dilakukan sebagai penanganan endometriosis juga dapat menjadi faktor risiko yang memengaruhi nilai AMH. Langkah pembedahan berisiko untuk melukai langsung bagian indung telur. Dengan beberapa risiko kerusakan pada sel telur, laju penurunan cadangan sel telur pada kasus endometriosis menjadi lebih cepat dari normal. Penurunan AMH yang lebih cepat di usia muda dapat menandakan cadangan sel telur yang berkurang lebih dini. Kondisi ini secara umum berkaitan dengan kemungkinan menopause yang terjadi lebih awal.
Mengapa Penting bagi Pasien Endometriosis Mengetahui Nilai AMH?
Meskipun awalnya terdengar asing, penting bagi Endosisters untuk mengetahui nilai AMH. Nilai AMH dapat digunakan untuk:
1. Menilai cadangan sel telur
Nilai AMH memberikan gambaran mengenai kuantitas cadangan sel telur yang tersisa. Informasi ini dapat membantu dokter dalam memperkirakan potensi reproduksi dan menyusun perencanaan kehamilan, termasuk mempertimbangkan perlunya tindakan fertility preservation (seperti egg freezing/simpan beku sel telur) untuk menjaga peluang reproduksi di masa depan. Dalam program kehamilan, nilai AMH juga dapat digunakan untuk memperkirakan secara kasar respons indung telur terhadap terapi kesuburan, seperti inseminasi intrauterin atau in-vitro fertilization (IVF)/bayi tabung. Namun, AMH hanya mencerminkan jumlah, bukan kualitas sel telur. Oleh karena itu, nilai AMH tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya penentu kesuburan seseorang.
2. Membantu pengambilan keputusan terapi endometriosis
Apabila nilai AMH sudah rendah, pemilihan terapi operasi akan kurang disarankan karena adanya risiko kerusakan pada cadangan sel telur lebih lanjut. Pada situasi ini, terapi hormonal atau observasi lebih disarankan.
Nilai AMH dapat Berbeda-beda
Pada kasus endometriosis, nilai AMH umumnya menurun, tetapi tidak menutup kemungkinan bernilai normal atau lebih tinggi dari nilai referensi. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor.
1. Faktor endometriosis
Pasien yang titik endometriosisnya berada di indung telur ditemukan memiliki angka AMH yang lebih rendah dibanding kasus endometriosis di organ lainnya. Adanya riwayat operasi endometriosis juga menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi nilai AMH.
2. Tidak hanya dipengaruhi oleh faktor endometriosis
Karena AMH merupakan senyawa yang secara alami ada pada tubuh, faktor yang memengaruhinya berkaitan dengan faktor di luar endometriosis. Usia, seperti yang dijelaskan sebelumnya, sangat berkaitan dengan cadangan sel telur. Kondisi lainnya, seperti polycystic ovarian syndrome (PCOS) (kini polyendocrine metabolic ovarian syndrome (PMOS)), justru umumnya meningkatkan nilai AMH. Faktor gaya hidup, seperti obesitas dan kekurangan vitamin D, telah dikaitkan dengan perubahan nilai AMH dan dapat memengaruhi kesehatan reproduksi secara keseluruhan.
“Nilai AMH saya rendah, apa maknanya?”
Mendapatkan hasil AMH yang rendah sering kali menimbulkan kekhawatiran, terutama bagi Endosisters yang sedang memikirkan rencana kehamilan. AMH yang rendah dapat diartikan bahwa cadangan sel telur lebih sedikit. Namun, peluang hamil spontan masih ada karena masih ada sel telur yang dapat dikeluarkan setiap bulannya. Kemungkinan hamil bergantung dengan usia dan kondisi kesehatan reproduksi secara menyeluruh.
“Jika AMH saya rendah, apakah bisa dinaikkan?”
Saat ini, belum ada pengobatan atau suplementasi yang terbukti secara konsisten dapat meningkatkan nilai AMH. Hal ini kembali kepada sifatnya, di mana nilai AMH merefleksikan cadangan sel telur yang sejak awal bersifat terbatas.
“Jika nilai AMH normal atau tinggi, apakah aman?”
Penilaian AMH hanya salah satu keping puzzle dari gambaran besar. Secara kasarnya, hal ini dapat mencerminkan cadangan sel telur yang masih baik. Namun, hal ini tidak bisa sepenuhnya menyingkirkan endometriosis maupun gangguan kesuburan. AMH normal tidak otomatis mengartikan pasien memiliki endometriosis ringan, tidak ada masalah fertilitas, atau tidak memerlukan terapi. Pada endometriosis, masalah hamil bisa terjadi juga karena perlengketan panggul, gangguan pelepasan sel telur, inflamasi, atau gangguan penempelan bakal janin. Evaluasi peluang kehamilan juga perlu lengkap pada satu pasangan, baik dari sisi perempuan (seperti struktur organ dan hormon) maupun laki-laki (seperti kuantitas dan kualitas sperma).
Kapan pasien endometriosis sebaiknya cek AMH?
Jadi, kapankah Endosisters mengecek nilai AMH? Atau, pada situasi apa biasanya dokter mempertimbangkan untuk mengecek AMH? Kadar AMH relatif stabil sepanjang siklus menstruasi, sehingga pengecekannya tidak perlu dilakukan pada hari tertentu dalam satu siklus. Biasanya, AMH dicek pada:
- Kasus endometriosis di indung telur (endometrioma)
- Rencana operasi kista indung telur
- Alasan kesuburan lainnya, seperti: evaluasi kesuburan pada kasus sulit hamil, adanya rencana fertility preservation (misalnya egg freezing/simpan beku sel telur) atau program hamil (seperti IVF/bayi tabung)
Pada akhirnya, AMH hanya salah satu angka dari sekian banyak informasi tentang tubuh kita. Bukan penentu nilai diri, bukan pula vonis atas masa depan. Angka ini dapat membantu dokter memahami kondisi cadangan sel telur, tetapi tidak dapat menceritakan keseluruhan perjalanan reproduksi seseorang. Bagi pasien endometriosis, memahami AMH bukan untuk menakuti diri sendiri, melainkan untuk membantu mengambil keputusan yang lebih terinformasi tentang terapi, perencanaan kehamilan, dan masa depan reproduksi.
Jadi, kalau suatu hari Endosisters melihat hasil AMH yang rendah, jangan buru-buru merasa harapan sudah hilang. Angka ini adalah salah satu bekal untuk memahami tubuh sendiri, berdiskusi dengan dokter, dan merencanakan langkah terbaik ke depan. Semakin kita memahami tubuh kita, semakin besar pula kendali yang kita miliki atas pilihan-pilihan kita.
Referensi
- Karaviti E, Karaviti D, Kani E-R, Chatziandreou E, Paschou SA, Psaltopoulou T, et al. The role of anti-Müllerian hormone: Insights Into Ovarian Reserve, primary ovarian insufficiency, and menopause prediction. Endocrine. 2025 May 23;89(2):338–55. doi:10.1007/s12020-025-04265-0
- Moolhuijsen LME, Visser JA. Anti-Müllerian Hormone and Ovarian Reserve: Update on Assessing Ovarian Function. J Clin Endocrinol Metab. 2020 Nov 1;105(11):3361–73. doi: 10.1210/clinem/dgaa513. PMID: 32770239; PMCID: PMC7486884.
- Iwase A, Hasegawa Y, Tsukui Y, Kobayashi M, Hiraishi H, Nakazato T, et al. Anti-müllerian hormone beyond an ovarian reserve marker: The relationship with the physiology and pathology in the life-long follicle development. Frontiers in Endocrinology. 2023 Nov 3;14. doi:10.3389/fendo.2023.1273966
- Valenti M, Schliep KC, Paulsen M, Hemmert RB, Peterson CM, et al. Incident endometriosis diagnosis and AMH: how surgical staging and typology relate to serum AMH levels. Am J Obstet Gynecol. 2026 May;234(5):1450-1458. doi: 10.1016/j.ajog.2025.12.070. Epub 2026 Jan 8. PMID: 41519422; PMCID: PMC13051726.
- Chung YS, Choi E, Baek JK, Kim H, Yun BH. Effects of Endometriosis on Anti-Müllerian Hormone. J Clin Med. 2025 Jun 25;14(13):4495. doi: 10.3390/jcm14134495. PMID: 40648868; PMCID: PMC12249931.
- Romanski PA, Brady PC, Farland LV, Thomas AM, Hornstein MD. The effect of endometriosis on the antimüllerian hormone level in the infertile population. J Assist Reprod Genet. 2019 Jun;36(6):1179-1184. doi: 10.1007/s10815-019-01450-9. Epub 2019 Apr 16. PMID: 31020439; PMCID: PMC6603105.
- Goodman LR, Goldberg JM, Flyckt RL, Gupta M, Harwalker J, Falcone T. Effect of surgery on ovarian reserve in women with endometriomas, endometriosis and controls. Am J Obstet Gynecol. 2016 Nov;215(5):589.e1-589.e6. doi: 10.1016/j.ajog.2016.05.029. Epub 2016 May 27. PMID: 27242204.
- Ma S, Gao X, Hu M, Xie N, Yao R, Zhang Y, Yan J, Qin Y, Liu P. Factors influencing the rate of anti-Müllerian hormone decline: a retrospective study of 4245 infertile women. Reprod Biomed Online. 2025 Dec;51(6):105118. doi: 10.1016/j.rbmo.2025.105118. Epub 2025 Jun 20. PMID: 41198514.
- Bednarska-Czerwińska A, Olszak-Wąsik K, Olejek A, Czerwiński M, Tukiendorf AA. Vitamin D and Anti-Müllerian Hormone Levels in Infertility Treatment: The Change-Point Problem. Nutrients. 2019 May 10;11(5):1053. doi: 10.3390/nu11051053. PMID: 31083424; PMCID: PMC6567253.
- Pacchiarotti A, Iaconianni P, Caporali S, Vitillo M, Meledandri M, et al. Severe endometriosis: low value of AMH did not affect oocyte quality and pregnancy outcome in IVF patients. Eur Rev Med Pharmacol Sci. 2020 Nov;24(22):11488-11495. doi: 10.26355/eurrev_202011_23790. PMID: 33275215
Disusun oleh:
- dr. Mila Maidarti, SpOG-KFER, PhD – Klaster Human Reproduction, Infertility, and Family Planning (HRIFP), IMERI – Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
- Tiara Maritza Ermizal – Mahasiswa Pendidikan Profesi Dokter FKUI