Banyak banyak perempuan, endometriosis identik dengan nyeri haid hebat, nyeri panggul, atau gangguan kesuburan. Namun, bagi sebagian EndoSisters, keluhannya . Namun, ada keluhan lain yang sering muncul dan terasa jauh lebih luas dari “sekadar” organ reproduksi:
- punggung bawah yang terasa kaku setelah duduk lama
- pinggul yang nyeri saat berjalan
- otot perut yang tegang bahkan di luar siklus haid
- postur tubuh yang tanpa sadar berubah karena tubuh mencoba ‘menghindari’ rasa sakit
Keluhan seperti ini sering membuat bingung. “Apakah ini masih ada hubungannya dengan endometriosis?” “Kenapa rasanya sampai ke punggung, pinggul, atau kaki?” Pertanyaan-pertanyaan itu sangat wajar, dan ini nyata, bukan hanya perasaan endosisters saja! Memahami hal ini penting, karena penanganan endometriosis kadang tidak cukup hanya berfokus pada hormon atau nyeri haid. Pada sebagian orang, tubuh juga membutuhkan perhatian pada otot, sendi, pola gerak, dan sistem saraf yang ikut terdampak..
Salah satu tantangan terbesar: banyak perempuan dengan gejala ini justru pertama kali datang ke dokter ortopedi, reumatologi, atau neurologi. Akibatnya, rata-rata diagnosis endometriosis tertunda hingga 5–10 tahun!
Endometriosis bukan hanya berdampak pada organ reproduksi.
Tubuh bekerja sebagai satu kesatuan. Saat nyeri panggul datang berulang setiap bulan—atau bahkan menetap di luar haid—tubuh akan terus berusaha beradaptasi. Masalahnya, adaptasi ini tidak selalu nyaman. Kadang tubuh justru menjadi lebih tegang, lebih sensitif terhadap nyeri, atau mengubah cara bergerak untuk “menghindari” rasa sakit.
Tulang, otot, sendi, ligamen, dan tendon yang bekerja sama agar tubuh dapat bergerak. Ketika ada bagian tubuh yang mengalami nyeri kronis seperti pada endometriosis, seluruh sistem gerak ini ikut bereaksi dan beradaptasi, seringkali dengan cara yang justru memperburuk kondisi dalam jangka panjang.
Mekanisme: Bagaimana Endometriosis Memengaruhi Otot dan Sendi?
| Mekanisme | Penjelasan |
| Otot ikut “siaga” terus- menerus? | Ketika tubuh sering merasakan nyeri, respons alaminya adalah melindungi area yang sakit. Salah satu caranya adalah dengan menegangkan otot di sekitarnya. Pada endometriosis, hal ini sering terjadi pada otot dasar panggul, otot perut bawah, dan otot-otot penyangga punggung bawah. Kalau ketegangan ini berlangsung lama, seperti nyeri panggul berulang saat haid yang dirasakan oleh endosisters, otot menjadi sulit rileks sepenuhnya, bahkan di luar masa haid, sehingga memicu ketegangan otot secara persisten. Kondisi ini dapat dikeluhkan seperti:nyeri panggul yang terasa menetaprasa berat atau tegang di perut bawahnyeri saat berhubungan intimsulit untuk duduk lama karena panggul terasa tidak nyamanKeluhan saat buang air kecil atau buang air besar Keluhan seperti ini sering dikaitkan dengan gangguan pada otot panggul, yang memang cukup sering ditemukan pada orang dengan nyeri panggul kronis, termasuk endometriosis. |
| Perubahan Postur Tubuh | Secara tidak sadar, tubuh endosisters akan mencari posisi yang paling “nyaman” saat menahan rasa sakit. Kalau satu bagian tubuh sering sakit, tubuh akan mencari posisi yang terasa “paling aman”. Misalnya, condong ke satu sisi, mengencangkan perut saat berjalan, atau mengubah cara duduk agar nyeri berkurang. Namun, jika ini dilakukan terus-menerus, beban tubuh jadi tidak terbagi seimbang. Dalam jangka panjang, perubahan postur ini dapat memengaruhi:keselarasan tulang belakangmenambah beban pada otot punggung dan lehermemicu nyeri di area yang jauh dari titik asal, seperti bahu, lutut, atau pergelangan kaki |
| Sistem saraf bisa menjadi lebih sensitif terhadap nyeri | Nyeri kronis pada endometriosis melibatkan proses yang disebut sensitisasi sentral, yaitu kondisi di mana sistem saraf menjadi lebih “waspada” terhadap rangsangan nyeri. Kondisi ini mengakibatkan::tubuh lebih mudah merasa nyerinyeri yang seharusnya derajat ringan terasa jauh lebih menyakitkan,nyeri dirasakan di area yang lebih luas, termasuk di punggung, paha, hingga tungkai.Nyeri tetap bertahan walau haid sudah selesaiPada konteks muskuloskeletal, sensitisasi sentral dapat membuat otot dan sendi terasa nyeri bahkan tanpa ada kerusakan struktural yang nyata. |
| Infiltrasi Jaringan(Deep Endometriosis) | Pada kasus deep endometriosis (endometriosis dalam), jaringan endometriosis dapat tumbuh dapat tumbuh lebih dalam dan menginfiltrasi ligamen uterosakral, dinding usus, kandung kemih, bahkan area saraf sekitar panggul. Ketika ini terjadi, nyeri dapat menjalar ke punggung bawah, bokong, atau kaki, menyerupai gejala sciatica (nyeri saraf yang menjalar dari tulang belakang ke tungkai). Ini bukan berarti semua nyeri kaki pasti berasal dari endometriosis. Namun, jika nyeri menjalar muncul berulang, memburuk saat haid, atau disertai nyeri panggul berat, keluhan tersebut patut dibicarakan saat kontrol. |
| Peradangan Seluruh Tubuh | Peradangan kronis yang menjadi ciri khas endometriosis tidak hanya berdampak lokal di panggul, tetapi juga dapat memengaruhi cara tubuh merasakan nyeri secara keseluruhan. Pada sebagian EndoSisters, ini bisa muncul sebagai::tubuh terasa pegal “di banyak titik”kelelahan ototnyeri tersebar di banyak titikpeningkatan sensitivitas tubuh secara keseluruhan |
Gejala Muskuloskeletal yang Perlu Dikenali
Tidak semua nyeri otot atau sendi pasti disebabkan oleh endometriosis, tetapi perlu diwaspadai jika muncul bersamaan dengan nyeri haid yang berat, seperti:
| Gejala | Kapan Perlu Waspada |
| Nyeri punggung bawah | Menetap atau memburuk saat siklus haid |
| Nyeri / kekakuan di pinggul dan panggul | terutama saat berjalan atau duduk lama |
| Nyeri menjalar ke bokong / paha / kaki | Menyerupai gejala sciatica, muncul bersamaan saat haid |
| Otot perut bawah tegang | Tidak bisa rileks bahkan di luar siklus menstruasi |
| Nyeri di area perineum | Rasa tidak nyaman antara vagina dan anus |
| Kesulitan berjalan | Saat sedang nyeri berat, walaupun langkah normal |
Pola catamenial (cyclical) atau gejala yang memburuk secara konsisten saat atau menjelang haid, adalah kunci diagnostik utama. Mengenali pola ini secara bermakna meningkatkan kemungkinan asal endometriosis.
Jika terdapat keluhan tersebut, bukan berarti pasti ada masalah besar, tetapi bisa menjadi sinyal bahwa tubuh butuh evaluasi yang lebih menyeluruh.
Apa yang Dapat Dilakukan?
keluhan pada otot dan sendi bukan sesuatu yang harus ditahan sendirian. Ada beberapa langkah yang bisa membantu, terutama bila dilakukan secara bertahap dan sesuai kondisi tubuh. Saat kontrol, ceritakan semua keluhan, dan Jangan hanya menyebut “nyeri haid” atau “nyeri panggul”. Sampaikan juga bila sister mengalami:
- punggung bawah pegal
- pinggul terasa kaku
- nyeri bokong atau paha
- perut bawah terus menegang
- kesulitan duduk lama atau berjalan saat haid
Informasi ini penting agar dokter melihat gambaran nyeri sister secara lebih utuh.
| Latihan Fisik BertahapAktivitas fisik seperti jalan kaki, yoga, Pilates, atau latihan peregangan ringan dapat membantu tubuh terasa lebih lentur dan rileks, melepaskan ketegangan otot, memperbaiki fleksibilitas, dan merangsang pelepasan endorfin alami yang bersifat pereda nyeri. Latihan sebaiknya dimulai perlahan dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu. Pada beberapa orang, fisioterapi panggul juga dapat membantu mengurangi ketegangan otot dan memperbaiki pola gerak. Studi terbaru menunjukkan bahwa rehabilitasi fisik pada endometriosis dapat membantu memperbaiki nyeri, kualitas hidup, dan beberapa gangguan tulang belakang khususnya punggung bawah – panggul. |
| Pengelolaan Nyeri MenyeluruhNyeri kronis sering membutuhkan pendekatan yang lebih luas daripada obat pereda nyeri saja. kombinasi terapi medis (seperti terapi hormonal dan OAINS), latihan fisik, relaksasi, pendekatan fisioterapi, tidur yang cukup, serta bila perlu terapi psikologis. Terapi tambahan seperti akupunktur dapat membantu mengurangi nyeri haid, nyeri panggul terkait endometriosis serta memperbaiki kualitas hidup. Teknik seperti mindfulness dan relaksasi otot progresif dapat membantu menurunkan persepsi nyeri dan meredakan ketegangan otot yang dipicu oleh stres. |
Endometriosis memang sering dikenal sebagai penyakit yang menyerang organ reproduksi. Tetapi bagi banyak perempuan, dampaknya bisa terasa sampai ke otot, sendi, postur tubuh, dan cara tubuh bergerak sehari-hari. Karena itu, merawat endometriosis juga berarti merawat tubuh secara menyeluruh—bukan hanya fokus pada nyeri haid atau hasil pemeriksaan semata.
Jika sister merasa nyeri “menyebar” ke punggung, pinggul, bokong, atau kaki, itu bukan berarti sister berlebihan. Tubuh sister sedang memberi sinyal bahwa ia butuh perhatian yang lebih luas
Merawat otot dan sendi merupakan bagian penting dari perjalanan panjang bersama endometriosis. Karena tubuhmu layak mendapat perhatian yang utuh, bukan hanya pada bagian yang terdiagnosis, tetapi pada seluruh bagian yang merasakan dampaknya. Dan seperti banyak hal lain dalam perjalanan ini, sister tidak harus menjalaninya sendirian.
Referensi:
- Becker CM, Bokor A, Heikinheimo O, Horne A, Jansen F, Kiesel L, et al. ESHRE guideline: endometriosis. Hum Reprod Open. 2022 Feb 26;2022(2):hoac009. doi: 10.1093/hropen/hoac009.
- Aredo JV, Heyrana KJ, Karp BI, Shah JP, Stratton P. Relating chronic pelvic pain and endometriosis to signs of sensitization and myofascial pain and dysfunction. Semin Reprod Med. 2017 Jan;35(1):88-97. doi: 10.1055/s-0036-1597123.
- Morotti M, Vincent K, Becker CM. Mechanisms of pain in endometriosis. Eur J Obstet Gynecol Reprod Biol. 2017 Feb;209:8-13.
- As-Sanie S, Harris RE, Napadow V, Kim J, Neshewat G, Kairys A, et al. Rates and predictors of central sensitization in women with chronic pelvic pain. Clin J Pain. 2017 Jun;33(6):499-507.
- Mick I, Freger SM, van Keizerswaard J, Gholiof M, Leonardi M. Comprehensive endometriosis care: a modern multimodal approach for the treatment of pelvic pain and endometriosis. Ther Adv Reprod Health. 2024 Sep 23;18:26334941241277759. doi: 10.1177/26334941241277759.
- Allaire C, Williams C, Bodmer-Roy S, Zhu S, Arion K, Ambacher K, et al. Chronic pelvic pain in an interdisciplinary setting: 1-year prospective cohort. Am J Obstet Gynecol. 2018 Jan;218(1):114.e1-114.e12. doi: 10.1016/j.ajog.2017.10.002.
- Chen C, Li X, Lu S, Yang J, Liu Y. Acupuncture for clinical improvement of endometriosis‑related pain: a systematic review and meta‑analysis. Archives of Gynecology and Obstetrics (2024) 310:2101–14. doi : 10.1007/s00404-024-07675-z
- Remita K, Darwish A. Endometriosis and unexplained musculoskeletal manifestations in reproductive-age women: a narrative review. Batna Journal of Medical Sciences. 2026;13(2):06. doi: 10.48087/BJMS.2026.130206.
Disusun oleh:
- Dr. dr. Achmad Kemal Harzif, SpOG, Subsp. FER– Klaster Human Reproduction, Infertility, and Family Planning (HRIFP), IMERI – Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
- Fatimah Adzra Khairunnisa – Mahasiswi Pendidikan Profesi Dokter FKUI
Artikel ini merupakan kerjasama antara komunitas Endometriosis Indonesia dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia