Dua garis merah pada test pack sering menjadi salah satu momen paling dinanti dalam kehidupan berkeluarga. Harapan itu makin kuat ketika kehamilan dikonfirmasi melalui USG. Namun beberapa minggu kemudian, harapan tersebut harus hilang bagi sebagian perempuan tanpa alasan yang jelas. Hal ini bahkan terjadi bukan hanya sekali, tetapi berulang kali. Pengalaman ini menyisakan satu pertanyaan yang terus ada di pikiran banyak perempuan: “Sebenarnya ada apa dengan tubuh saya?”. Jawabannya pun tersembunyi pada kondisi rahim yang belum diketahui. Adenomiosis mungkin saja menjadi alasan di balik hal tersebut. Kondisi yang tidak hanya berkaitan dengan kualitas hidup, tetapi juga dengan peningkatan risiko keguguran berulang.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa perempuan dengan adenomiosis memiliki risiko keguguran yang lebih tinggi dibandingkan perempuan tanpa adenomiosis, meskipun besar risikonya dapat berbeda pada setiap penelitian.
Apa itu Adenomyosis ?
Adenomiosis merupakan kondisi ketika lapisan dalam rahim (endometrium) masuk ke otot rahim (miometrium) yang dapat menyebabkan penebalan, pembesaran, peradangan, dan perubahan struktur rahim. Adenomiosis dan endometriosis merupakan dua penyakit yang berbeda, tetapi sering ditemukan bersamaan dan memiliki mekanisme biologis yang saling berkaitan. Oleh karena itu, tidak menutup kemungkinan bahwa adenomiosis dan endometriosis bisa terjadi secara bersamaan dalam tubuh.
Jaringan yang tumbuh di dalam otot rahim ini tetap bereaksi terhadap perubahan hormon setiap siklus menstruasi. Hal ini menyebabkan nyeri haid hebat, nyeri saat berhubungan, perdarahan berlebih, perut bawah kembung,dan gangguan kesuburan yang mengganggu kualitas hidup. Perempuan dengan adenomiosis diketahui memiliki risiko keguguran berulang yang lebih tinggi dibandingkan tanpa adenomiosis.
Penegakkan diagnosis adenomiosis juga tidaklah mudah karena seringkali tidak spesifik dan tumpang tindih dengan kondisi rahim lainnya. Seseorang perlu lebih waspada ketika pernah mengalami keguguran sebelumnya, terutama pada keguguran dengan alasan yang tidak dapat dijelaskan. Kondisi gangguan kesuburan sebelumnya juga menjadi petunjuk untuk pemeriksaan lanjutan.
Mengapa pada adenomiosis terjadi keguguran berulang ?
Keguguran bisa terjadi tidak hanya sekali, tetapi juga dua hingga berulang kali. Secara sederhana, adenomiosis dapat mengganggu kehamilan sejak proses menempelnya (implantasi) bakal janin hingga pembentukan plasenta. Adenomiosis bisa menyebabkan keguguran melalui beberapa mekanisme, yaitu:
1. Kontraksi rahim yang tidak normal
Rahim yang sehat memiliki kontraksi yang teratur untuk mendukung proses kehamilan. Pada adenomiosis, kontraksi rahim sering menjadi berlebihan dan tidak beraturan. Kondisi ini dapat membuat bakal janin lebih sulit menempel dengan kuat pada dinding rahim sehingga risiko kegagalan kehamilan pun meningkat.
2. Penurunan reseptivitas (kesiapan) dinding rahim
Lapisan dalam rahim (endometrium) perlu dalam kondisi terbaik agar bisa menerima dan menjaga bakal janin tetap menempel. Pada adenomiosis, kesiapan ini sering terganggu akibat perubahan protein dan sinyal alami tubuh yang seharusnya membantu proses menempelnya bakal janin. Maka dari itu, bakal janin lebih sulit menempel kuat dan sulit tumbuh di lingkungan yang optimal. Kondisi ini bisa meningkatkan risiko sulit hamil, gagalnya bakal janin menempel, hingga keguguran.
3. Peradangan kronis pada rahim
Adenomiosis membuat rahim mengalami peradangan yang terus-menerus. Kondisi ini mengganggu sistem kekebalan tubuh di dalam rahim, yang seharusnya berfungsi melindungi dan mendukung tumbuh kembang embrio. Akibatnya, lingkungan di dalam rahim menjadi kurang optimal bagi bakal janin untuk berkembang sehingga risiko keguguran pun meningkat.
4. Gangguan pembentukan plasenta
Setelah bakal janin berhasil menempel di dinding rahim, tubuh akan mulai membentuk plasenta, yaitu organ yang berfungsi menyalurkan oksigen dan nutrisi dari ibu ke janin. Pada adenomiosis, proses pembentukan plasenta terganggu karena perubahan struktur jaringan dan pembuluh darah di dalam rahim. Akibatnya, janin tidak mendapatkan nutrisi yang optimal untuk tumbuh dan berkembang. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko keguguran, preeklamsia, kelainan letak plasenta, bahkan hingga lepasnya plasenta dari dinding rahim
“Kenapa Ada yang Lebih Berisiko dari yang Lain?”
Tidak semua perempuan dengan adenomiosis punya risiko keguguran yang sama besar. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko keguguran antara lain:
– Usia ibu yang lebih tua saat hamil.
Seiring bertambahnya usia, kualitas sel telur secara alami akan menurun sehingga risiko kelainan kromosom pada janin ikut meningkat. Bila kondisi ini disertai adenomiosis yang mengganggu lingkungan rahim, peluang terjadinya keguguran dapat lebih besar
– Tingkat keparahan dan luas area adenomiosis di dalam rahim.
Semakin luas area adenomiosis mengenai rahim, maka semakin besar pula kemungkinan terjadinya gangguan dalam mempertahankan kehamilan. Alhasil, risiko keguguran dan komplikasi kehamilan dapat meningkat.
– Kondisi penyerta, seperti polip, mioma, atau kondisi rahim lainnya yang sering ditemukan bersamaan.
Adenomiosis sering ditemukan bersamaan dengan kondisi lain, seperti mioma, polip rahim, atau endometriosis. Bila beberapa kondisi ini terjadi secara bersamaan, gangguan terhadap proses penempelan bakal janin, perkembangan janin, dan keberlangsungan kehamilan dapat menjadi lebih kompleks. Risiko keguguran maupun gangguan kesuburan pun dapat meningkat.
Apa Penanganan, Pemeriksaan, dan Langkah Selanjutnya ?
Penanganan adenomiosis bertujuan mengurangi peradangan, memperbaiki lingkungan rahim, dan meningkatkan peluang implantasi maupun keberlangsungan kehamilan.
Pertanyaan yang muncul adalah “Apakah saya bisa tetap hamil normal?”. Diagnosis adenomiosis bukan berarti seseorang tidak bisa punya anak sehat. Keberhasilan sangat bergantung pada usia, derajat adenomiosis, kualitas embrio, serta adanya penyakit penyerta. Beberapa pendekatan penanganan yang dapat dipertimbangkan bersama dokter spesialis meliputi:
- Terapi hormonal pra-kehamilan untuk mengecilkan bagian adenomiosis sebelum program hamil
- Protokol khusus pada program bayi tabung (IVF), misalnya dengan tambahan terapi untuk menekan kontraksi rahim berlebih saat transfer bakal janin
- Pemantauan kehamilan yang lebih ketat diperlukan mengingat adanya risiko komplikasi seperti preeklamsia dan gangguan plasenta
Pasien dengan riwayat keguguran berulang dan gejala yang mengarah pada adenomiosis sebaiknya menjalani pemeriksaan USG transvaginal atau MRI untuk memastikan diagnosis Hal ini bertujuan agar penanganan yang tepat dapat disesuaikan pada masing-masing orang. Saat ini, USG transvaginal oleh pemeriksa yang berpengalaman merupakan pemeriksaan pertama yang direkomendasikan untuk mendiagnosis adenomiosis. MRI biasanya digunakan bila hasil USG belum jelas atau diperlukan penilaian lebih rinci.
Jika Anda pernah mengalami keguguran berulang, terutama disertai nyeri haid hebat, perdarahan menstruasi yang banyak, atau sulit hamil, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter spesialis kandungan dan kebidanan. Keguguran berulang bukanlah sesuatu yang harus diterima begitu saja. Dengan pemeriksaan yang tepat, penyebab dapat dicari dan banyak perempuan tetap memiliki peluang menjalani kehamilan yang sehat.
Referensi:
- Yoldemir T. The association between adenomyosis and infertility. Gynecol Reprod Endocrinol Metab. 2024;4(2-3):72-77. doi:10.53260/grem.234024.
- Shimizu Y, Fukuda J, Kumasawa Y, Tanaka T. Pregnancy complicated by adenomyosis resulted in miscarriage in three cases of in vitro fertilization-embryo transfer. Reprod Med Biol. 2004 May 20;3(2):95-98. doi: 10.1111/j.1447-0578.2004.00057.x. PMID: 29699187; PMCID: PMC5906874.
- Wu HM, Tsai TC, Liu SM, Pai AH, Chen LH. The Current Understanding of Molecular Mechanisms in Adenomyosis-Associated Infertility and the Treatment Strategy for Assisted Reproductive Technology. Int J Mol Sci. 2024 Aug 16;25(16):8937. doi: 10.3390/ijms25168937. PMID: 39201621; PMCID: PMC11354813.
- Atabekoğlu CS, Şükür YE, Kalafat E, Özmen B, Berker B, Aytaç R, Sönmezer M. The association between adenomyosis and recurrent miscarriage. Eur J Obstet Gynecol Reprod Biol. 2020 Jul;250:107-111. doi: 10.1016/j.ejogrb.2020.05.006. Epub 2020 May 5. PMID: 32428805.
- Kobayashi H. Endometrial Inflammation and Impaired Spontaneous Decidualization: Insights into the Pathogenesis of Adenomyosis. Int J Environ Res Public Health. 2023 Feb 20;20(4):3762. doi: 10.3390/ijerph20043762. PMID: 36834456; PMCID: PMC9964052.
- Selntigia A, Molinaro P, Tartaglia S, Pellicer A, Galliano D, Cozzolino M. Adenomyosis: An Update Concerning Diagnosis, Treatment, and Fertility. J Clin Med. 2024 Sep 3;13(17):5224. doi: 10.3390/jcm13175224. PMID: 39274438; PMCID: PMC11396652.
- Zhu X, et al. Adenomyosis-associated infertility: an update of the immunological perspective. Reprod Biomed Online. 2024. doi:10.1016/j.rbmo.2024.104703.
- Lin PW, Chern CU, Li CJ, Lin PH, Tsui KH, Lin LT. Improvement of early miscarriage rates in women with adenomyosis via oxytocin receptor antagonist during frozen embryo transfer-a propensity score-matched study. Reprod Biol Endocrinol. 2024 Jul 12;22(1):79. doi: 10.1186/s12958-024-01255-1. PMID: 38997744; PMCID: PMC11241821.
- Exacoustos C, Ticconi C, Colombi I, Iorio GG, Vaquero E, Selntigia A, Chiaramonte B, Soreca G, Rizzo G. Type and Location of Adenomyosis in Women with Recurrent Pregnancy Loss: A Transvaginal Ultrasonographic Assessment. Reprod Sci. 2024 Aug;31(8):2447-2457. doi: 10.1007/s43032-024-01541-8. Epub 2024 Apr 15. PMID: 38619796; PMCID: PMC11289184.
Disusun oleh:
- Dr. dr. Kanadi Sumapraja, SpOG(K) – Klaster Human Reproduction, Infertility, and Family Planning (HRIFP), IMERI – Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
- Albert Jip – Mahasiswa Pendidikan Profesi Dokter FKUI
Artikel ini merupakan kerjasama antara komunitas Endometriosis Indonesia dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia