Mendapat diagnosis adenomiosis bisa menambah kebingungan dan kekhawatiran, terutama ketika gejala seperti nyeri haid hebat atau perdarahan menstruasi yang banyak mengganggu aktivitas sehari-hari. Kondisi adenomiosis ini terjadi ketika jaringan yang menyerupai lapisan dinding rahim (endometrium) tumbuh ke dalam otot rahim (miometrium). Kondisi inilah yang dapat menyebabkan rahim membesar, nyeri, dan perdarahan yang lebih banyak dari biasanya.
Meski terdengar kompleks, juga terasa melelahkan secara fisik maupun emosional, penting untuk diketahui bahwa ada berbagai pilihan penanganan yang dapat membantu mengelola gejala adenomiosis. Penanganan adenomiosis tidak selalu sama untuk setiap orang, karena dipertimbangkan berdasarkan beberapa hal, seperti usia, seberapa berat gejala yang dialami, serta rencana atau keinginan untuk memiliki anak di masa depan.
Artikel ini hadir untuk membantu memahami pilihan-pilihan tersebut—dengan pendekatan yang realistis, tidak menghakimi, dan tetap berfokus pada kebutuhan setiap individu.

Terapi Non Farmakologis
Nutrisi
Pola makan dapat menjadi salah satu bagian penting dalam membantu mengelola gejala adenomiosis, meskipun bukan sebagai pengobatan utama. Adenomiosis merupakan kondisi yang dipengaruhi oleh hormon estrogen dan proses peradangan dalam tubuh. Oleh karena itu, beberapa pendekatan seperti pola makan anti-inflamasi (anti peradangan), misalnya pola makan yang menyerupai diet Mediterania dapat dilakukan. Pola makan ini menekankan konsumsi buah dan sayur yang kaya antioksidan, serta sumber lemak sehat seperti ikan dan biji-bijian. Pendekatan ini dapat membantu mendukung keseimbangan tubuh dan, pada sebagian penderita, berpotensi membantu mengurangi keluhan seperti nyeri haid.
Selain itu, asupan serat yang cukup juga penting untuk diperhatikan. Serat dari sayuran, buah, dan kacang-kacangan dapat membantu tubuh dalam proses metabolisme dan pembuangan hormon, termasuk estrogen. Dengan demikian, keseimbangan hormon dalam tubuh dapat lebih terjaga. Di sisi lain, membatasi konsumsi makanan tinggi gula, daging merah berlebih, serta makanan olahan juga dapat dipertimbangkan, karena jenis makanan ini dapat memicu peradangan. Meskipun demikian, respons setiap individu terhadap pola makan dapat berbeda, sehingga penting untuk menyesuaikan pola makan dengan kebutuhan masing-masing serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan atau ahli gizi.
Olahraga
Aktivitas fisik ringan hingga sedang, seperti berjalan kaki, yoga, atau peregangan, dapat membantu meningkatkan aliran darah ke area panggul, mengurangi ketegangan otot, serta mendukung pelepasan endorfin yang berperan dalam mengurangi nyeri. Olahraga dapat dilakukan selama 150 menit dalam satu minggu dapat dibagi 30 menit selama 5 hari. Namun, penting untuk mendengarkan kondisi tubuh, terutama saat nyeri sedang meningkat, dan menyesuaikan jenis serta intensitas olahraga agar tetap nyaman dilakukan.
Terapi Non-Bedah
Terapi medikamentosa biasanya menjadi pilihan pertama dalam penanganan adenomiosis. Tujuan utama terapi ini adalah untuk mengurangi nyeri serta mengontrol perdarahan menstruasi yang berlebihan.
Pereda nyeri
Salah satu terapi yang sering digunakan adalah pereda nyeri, obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID). Bekerja dengan menghambat produksi prostaglandin yang berperan dalam kontraksi rahim dan timbulnya nyeri sehingga diharapkan obat ini dapat merasakan berkurangnya nyeri haid pada adenomiosis. Namun, penting untuk diketahui bahwa obat ini hanya membantu meredakan gejala, tidak sepenuhnya mengendalikan adenomiosis.
Terapi Hormonal
Karena adenomiosis dipengaruhi oleh hormon, maka terapi hormonal sering menjadi pilihan utama. Beberapa opsi yang sering digunakan:
- Pil kontrasepsi kombinasi: menekan perkembangan sel telur sehingga dapat mengenalikan kadar estrogen serta juga memiliki efek mengurangi volume perdarahan menstruasi.
- Progestin tunggal: terdapat pilihan dalam bentuk sediaan sistem intrauterin yang melepaskan levonorgestrel, pil, maupun suntik. Jenis terapi hormonal ini dapat membantu mengurangi gejala nyeri dengan menekan hormon estrogen sehingga gejala adenomiosis dapat dikendalikan. Pada kondisi tertentu dapat juga terlihat adanya pengurangan ukuran rahim.
- agonis gonadotropin-releasing hormone (GnRH): menekan produksi hormon estrogen melalui pengaruhnya terhadap jalur pada otak. Dengan kadar hormon estrogen yang menurun, maka pertumbuhan jaringan adenomiosis dapat ditekan, sehingga dapat mengurangi keluhan seperti perdarahan berlebih dan nyeri panggul. Pengobatan ini memiliki efek gejala menopause dikarenakan penekanan hormon yang cukup dalam, sehingga pengobatan ini tidak diberikan secara jangka panjang
Terapi Bedah
Pengangkatan jaringan adenomiosis
Pada beberapa kasus dapat dilakukan tindakan operasi yang hanya mengangkat jaringan adenomiosis dengan masih mempertahankan rahim, terutama ketika adenomiosis bersifat terbatas pada area tertentu, contoh tindakannya adalah reseksi adenomiosis. Prosedur ini dapat membantu mengurangi keluhan gejala sekaligus mempertahankan kemungkinan kehamilan di masa depan. Namun, tindakan ini cukup kompleks dikarenakan jaringan adenomiosis umumnya memiliki batas yang tidak jelas dengan jaringan otot rahim yang normal. Tindakan reseksi adenomiosis memiliki risiko kekambuhan yang tinggi serta perlu peniliaian kekuatan rahim pasca reseksi.
Pengangkatan rahim
Bagi pasien yang tidak ada rencana memiliki kehamilan di masa depan, pengangkatan rahim dapat menjadi pilihan terapi yang bersifat definitif. Dengan dilakukan tindakan pengangkatan rahim (histerektomi), maka menghilangkan sumber utama adenomiosis sehingga gejala seperti perdarahan berlebih dan nyeri panggul dapat hilang.
Perlu diingat
Menghadapi adenomiosis bukan hanya soal memilih terapi, tetapi juga tentang memahami tubuh sendiri dan menemukan apa yang paling sesuai. Setiap penyintas adenomiosis dapat memiliki pengalaman dan kebutuhan penanganan yang berbeda. Karena itu, berdiskusi dengan dokter spesialis kandungan menjadi penting untuk menentukan pilihan terapi yang paling sesuai dengan kondisi dan rencana hidup masing-masing.
Menghadapi adenomiosis dapat terasa kompleks, terutama ketika gejala seperti nyeri hebat atau perdarahan menstruasi berlebih mulai memengaruhi aktivitas sehari-hari, pekerjaan, maupun kualitas hidup. Penanganan kondisi kompleks ini memerlukan strategi jangka panjang dan pengendalian hormon estrogen merupakan kunci mengendalikan gejala serta progresifitas adenomiosis. Pada kondisi tertentu pembedahan dapat dilakukan dengan mempertimbangkan pilihan antara bedah reseksi atau pengangkatan rahim.
Berdiskusi secara terbuka dengan tenaga kesehatan dapat membantu memahami pilihan yang tersedia dan menentukan langkah penanganan yang paling sesuai. Dengan informasi yang tepat dan dukungan yang baik, diharapkan penyintas dapat menemukan cara untuk mengelola gejala dan menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih nyaman.
Referensi:
- Capezzuoli T, Toscano F, Ceccaroni M, Roviglione G, Stepniewska A, Fambrini M, et al. Conservative surgical treatment for adenomyosis: new options for looking beyond uterus removal. Best Pract Res Clin Obstet Gynaecol. 2024 Jul;95:102507. doi:10.1016/j.bpobgyn.2024.102507.
- Abulughod N, Valakas S, El-Assaad F. Dietary and nutritional interventions for the management of endometriosis. Nutrients. 2024;16(23):3988. doi:10.3390/nu16233988.
- Rodríguez-Ruiz Á, Sierra-Artal B, Lozano-Lozano M, Artacho-Cordón F. Impact of physical rehabilitation on endometriosis and adenomyosis-related symptoms: a systematic review and meta-analysis. J Clin Med. 2025;14(23):8284. doi:10.3390/jcm14238284.
- American College of Obstetricians and Gynecologists. Abnormal uterine bleeding [Internet]. Washington (DC): ACOG; [cited 2026 Apr 2]. Available from: https://www.acog.org/womens-health/faqs/abnormal-uterine-bleeding
- Sharara FI, Kheil MH, Feki A, Rahman S, Klebanoff JS, Ayoubi JM, et al. Current and prospective treatment of adenomyosis. J Clin Med. 2021;10(15):3410. doi:10.3390/jcm10153410.
- Cleveland Clinic. Adenomyosis [Internet]. Cleveland (OH): Cleveland Clinic; [cited 2026 Apr 3]. Available from: https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/14167-adenomyosis
Disusun oleh:
- Dr. dr. Achmad Kemal Harzif, Sp.OG, Subsp.FER – Klaster Human Reproduction, Infertility, and Family Planning (HRIFP), IMERI – Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
- Ersa Felicia Simanjuntak, S.Ked, – Mahasiswi Pendidikan Profesi Dokter FKUI
Artikel ini merupakan kerjasama antara komunitas Endometriosis Indonesia dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia