Banyak EndoSisters mungkin pernah bertanya-tanya: “Kenapa nyeri haid terasa makin berat?” atau “Kenapa darah haid jadi lebih banyak dari biasanya?”
Keluhan seperti ini sering dikaitkan dengan Endometriosis. Namun, ada satu kondisi lain yang juga cukup sering terjadi bersamaan tetapi masih kurang dikenal oleh masyarakat luas, yaitu adenomiosis.
Memahami adenomiosis, termasuk bagaimana variasi bentuk dan penyebarannya, dapat membantu EndoSisters mengenali kondisi ini lebih dini, memahami perbedaan gejala yang dialami tiap individu, serta mencari penanganan yang lebih tepat dan personal.
Apa itu Adenomiosis?
Secara sederhana, adenomiosis adalah kondisi ketika jaringan endometrium, yaitu jaringan yang normalnya melapisi bagian dalam rahim, tumbuh dan menyusup ke dalam lapisan otot rahim (miometrium).
Dalam kondisi normal, endometrium akan menebal dan luruh setiap siklus menstruasi. Namun pada adenomiosis, jaringan ini tidak hanya berada di permukaan dalam rahim, tetapi juga “terperangkap” di dalam otot rahim. Jaringan tersebut tetap responsif terhadap hormon siklus menstruasi, sehingga ikut mengalami perubahan setiap bulan.
Gejala yang sering dirasakan antara lain:
- Nyeri haid (dismenore), terutama yang bersifat progresif
- Perdarahan haid yang lebih banyak (menoragia) atau lebih lama
- Rasa penuh, berat, atau tidak nyaman di perut bagian bawah
Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), adenomiosis merupakan kondisi jinak (non-kanker). Namun demikian, dampaknya terhadap kualitas hidup tidak bisa dianggap ringan, terutama pada pasien dengan nyeri haid berat atau perdarahan berlebih.
Mengapa Penting Memahami “Tipe” Adenomiosis?
Tidak semua EndoSisters dengan adenomiosis mengalami gejala yang sama. Variasi dalam lokasi, kedalaman, dan pola penyebaran jaringan dapat memengaruhi gejala yang muncul. Ada yang lebih dominan nyeri, ada yang lebih terganggu oleh perdarahan, dan ada juga yang mengalami keduanya. Perbedaan ini kemungkinan berkaitan dengan bagaimana dan dimana jaringan tersebut tumbuh di dalam rahim.
Namun demikian, penting untuk diketahui bahwa hingga saat ini belum ada sistem klasifikasi adenomiosis yang disepakati secara universal oleh organisasi seperti International Federation of Gynecology and Obstetrics (FIGO). Sebagian besar pembagian yang ada saat ini masih berasal dari penelitian dan belum sepenuhnya diadopsi sebagai standar global.
Tipe-Tipe Adenomiosis
1. Pembagian Berdasarkan Penyebaran (Paling Umum Digunakan)
Pembagian ini merupakan yang paling sederhana dan paling sering digunakan dalam praktik klinis sehari-hari.
a. Tipe menyebar (diffuse)
Jaringan adenomiosis tersebar di berbagai bagian dinding rahim. Akibat infiltrasi yang luas tersebut, rahim sering tampak:
- Membesar secara menyeluruh (difus)
- Dinding rahim menebal
- Struktur menjadi kurang homogen
Secara klinis, tipe ini sering dikaitkan dengan:
- Perdarahan haid yang lebih banyak
- Nyeri haid yang cukup berat
Tipe difus merupakan bentuk yang paling sering ditemukan dan seringkali memberikan gambaran klasik adenomiosis pada pemeriksaan pencitraan. Dari sisi pencitraan, diffuse adenomyosis dapat menunjukkan:
- penebalan dinding rahim yang tidak merata
- struktur miometrium heterogen
- batas junctional zone (batas antara endometrium dan miometrium) tidak jelas
b. Tipe terlokalisasi (fokal / adenomyoma)
Berbeda dengan tipe diffuse, pada focal adenomyosis jaringan hanya berada di satu area tertentu. Lesi ini membentuk massa atau benjolan lokal yang disebut adenomyoma. Adenomyoma dapat menyerupai mioma uteri karena sama-sama tampak sebagai massa di rahim. Namun, keduanya memiliki karakteristik yang berbeda:
- mioma berasal dari proliferasi otot polos rahim
- adenomyoma berasal dari jaringan endometrium yang berada di dalam miometrium
Karena sifatnya yang lebih terlokalisasi, gejala pada tipe ini dapat muncul lebih ringan dibanding tipe diffuse. Namun, jika lokasinya berada di area yang sensitif atau ukuran cukup besar, pasien tetap dapat mengalami:
- nyeri haid berat
- nyeri lokal pada panggul
- perdarahan menstruasi abnormal
2. Pembagian Berdasarkan Asal Pertumbuhan Jaringan
Selain pembagian utama di atas, beberapa penelitian mencoba memahami adenomiosis lebih detail, terutama dengan bantuan MRI. Pendekatan ini melihat dari mana dan bagaimana jaringan tersebut tumbuh di dalam dinding rahim.
1. Tipe yang berasal dari lapisan dalam rahim (intrinsic)
Pada tipe ini, jaringan tumbuh dari bagian dalam rahim lalu masuk ke dalam otot rahim. Sering dikaitkan dengan:
- perdarahan haid yang lebih banyak
- riwayat tindakan / prosedur pada rahim (seperti kuret atau operasi)
2. Tipe yang berasal dari bagian luar rahim (extrinsic)
Pada tipe ini, jaringan diduga berasal dari luar rahim dan kemudian masuk ke dinding rahim. Tipe ini sangat menarik karena cukup sering ditemukan bersamaan dengan Endometriosis, terutama endometriosis dalam (deep infiltrating endometriosis). Karena lokasinya lebih dekat dengan bagian luar rahim dan struktur panggul lain, tipe ini lebih sering dikaitkan dengan:
- nyeri panggul kronis
- nyeri saat menstruasi yang berat
- nyeri saat berhubungan seksual
3. Tipe yang berada di tengah otot rahim (intramural)
Pada tipe ini, jaringan berada di dalam otot rahim tanpa hubungan yang jelas dengan bagian dalam maupun luar rahim. Dengan kata lain, lesi tidak berhubungan dengan junctional zone seperti pada tipe intrinsic ataupun berasal dari bagian luar rahim seperti pada tipe extrinsic.
4. Tipe campuran atau sulit dikategorikan (indeterminate)
Pada beberapa kasus, pola penyebaran jaringan terlalu luas, kompleks, atau tidak khas sehingga tidak dapat dimasukkan ke kategori tertentu.
Penting untuk dipahami bahwa pembagian ini masih dalam tahap penelitian dan belum menjadi standar resmi global, tetapi membantu dokter memahami variasi gejala dan kemungkinan penyebabnya.
3. Pembagian Berdasarkan Lokasi
Dalam praktik sehari-hari, dokter kadang menyederhanakan lagi menjadi:
- Bagian dalam dinding rahim
- Bagian luar dinding rahim
- Seluruh ketebalan dinding rahim
Pendekatan ini membantu menghubungkan lokasi kelainan dengan gejala yang dirasakan. Sebagai contoh:
- Lesi yang lebih dekat ke lapisan dalam rahim lebih sering dikaitkan dengan perdarahan menstruasi abnormal
- Lesi yang lebih dekat ke bagian luar rahim sering lebih dominan menimbulkan nyeri panggul
4. Pembagian Berdasarkan Kedalaman Infiltrasi
Adenomiosis juga kadang dinilai dari seberapa dalam jaringan masuk ke dinding rahim, pembagian umumnya dibagi menjadi:
- <⅓ ketebalan dinding rahim
- ½ ketebalan dinding rahim
- >⅔ ketebalan dinding rahim
Pendekatan ini lebih sering digunakan dalam penelitian untuk menilai tingkat keparahan penyakit. Secara umum, infiltrasi yang lebih dalam cenderung berhubungan dengan gejala yang lebih berat, meskipun hubungan ini tidak selalu konsisten pada semua pasien.
Hubungan dengan Endometriosis
Adenomiosis dan endometriosis sering kali ditemukan secara bersamaan. Keduanya melibatkan jaringan yang menyerupai endometrium, tetapi tumbuh di lokasi yang tidak semestinya. Jika keduanya terjadi bersamaan, gejala yang dirasakan dapat menjadi lebih kompleks, lebih nyeri, serta membutuhkan pendekatan terapi yang lebih komprehensif dan personal.
Bagaimana cara mengetahuinya?
Diagnosis adenomiosis tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan gejala, karena gejalanya dapat tumpang tindih dengan berbagai kondisi lain. Pemeriksaan penunjang yang digunakan antara lain:
- USG (ultrasonografi) sebagai pemeriksaan awal
- MRI (magnetic resonance imaging) untuk evaluasi yang lebih detail
MRI dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai:
- lokasi lesi
- kedalaman infiltrasi
- pola penyebaran
Namun, MRI tidak selalu diperlukan pada semua pasien dan biasanya dipertimbangkan pada kasus yang kompleks.
Jadi, perasaanmu valid.
Nyeri haid yang berat atau perdarahan berlebihan bukan sesuatu yang harus dianggap normal dan ditahan begitu saja. Pengalaman setiap EndoSisters bisa sangat berbeda, dan salah satu alasannya adalah karena adenomiosis memiliki berbagai bentuk dan pola penyebaran. Memahami hal ini dapat membantu menjelaskan mengapa gejala yang dirasakan tidak selalu sama antara satu individu dengan yang lain.
Yang terpenting, adenomiosis adalah kondisi yang dapat dikelola. Dengan bantuan tenaga medis, berbagai pilihan terapi dapat dipertimbangkan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing individu.
Jika EndoSisters merasa gejala mengganggu aktivitas sehari-hari, mencari bantuan bukan berarti berlebihan, itu adalah bentuk kepedulian terhadap diri sendiri💛
Referensi:
- Vannuccini S, Petraglia F. Recent advances in understanding and managing adenomyosis. Hum Reprod Update. 2019;25(5):592–632.
- Chapron C, Vannuccini S, Santulli P, Abrão MS, Carmona F, Fraser IS, et al. Diagnosing adenomyosis: an integrated clinical and imaging approach. Hum Reprod Update. 2020;26(3):392–411.
- Kishi Y, Suginami H, Kuramori R, Yabuta M, Suginami R, Taniguchi F. Four subtypes of adenomyosis assessed by magnetic resonance imaging. Reprod Sci. 2012;19(6):622–8.
- Van den Bosch T, de Bruijn AM, de Leeuw RA, Dueholm M, Exacoustos C, Valentin L, et al. Sonographic classification and reporting system for diagnosing adenomyosis. Ultrasound Obstet Gynecol. 2019 May;53(5):576-82. doi: 10.1002/uog.19096.
- World Health Organization. Endometriosis [Internet]. Geneva: WHO; 2023 [cited 2026 Apr 26]. Available from: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/endometriosis
- American College of Obstetricians and Gynecologists. Abnormal uterine bleeding: ACOG practice bulletin. Washington (DC): ACOG.
Disusun oleh:
- Dr. dr. Gita Pratama, Sp. O.G, Subsp. F.E.R., M.Rep.Sc – Klaster Human Reproduction, Infertility, and Family Planning (HRIFP), IMERI – Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
- Amelia Dhiaulhaq, – Mahasiswi Pendidikan Profesi Dokter FKUI
Artikel ini merupakan kerjasama antara komunitas Endometriosis Indonesia dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia