“Kan normal, cuma haid.”
Kalimat singkat itu tak jarang diterima oleh seorang perempuan yang sedang meringkuk, memegang perut bawahnya, kadang-kadang berkeringat dan mual di tengah-tengah menyelesaikan tenggat waktu pekerjaan atau menjalani ujian di sekolah. Bagi sebagian perempuan, nyeri tersebut bukan hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga memengaruhi pendidikan, pekerjaan, hubungan personal, bahkan kesuburan. Bagaimana jika nyeri haid yang selama ini dianggap normal ternyata merupakan tanda penyakit inflamasi kronis?
Nyeri hebat saat haid sering kali dianggap sebagai hal yang normal. Padahal, dalam sebagian kasus, keluhan ini dapat disebabkan oleh endometriosis, yaitu kondisi ketika jaringan yang mirip dengan lapisan dalam rahim (endometrium) tumbuh di luar rahim. Penyakit ini ternyata tidak hanya berhubungan dengan hormon, tetapi juga banyak dipengaruhi oleh sistem kekebalan (imun). Oleh karena itu, endometriosis sering kali diklasifikasikan sebagai kondisi inflamasi kronik. Namun, apa sebetulnya hubungan antara endometriosis dan sistem kekebalan tubuh?
Mekanisme Terbentuknya Endometriosis
Untuk mengetahuinya, kamu harus terlebih dahulu memahami apa itu endometriosis dan bagaimana kondisi ini dapat terjadi. Salah satu teori yang paling umum menjelaskan mengapa terdapat jaringan yang mirip dengan lapisan dalam rahim (endometrium) yang tumbuh di luar rahim adalah menstruasi retrograde. Saat haid, darah biasanya keluar dari tubuh melalui jalan lahir. Namun, pada kebanyakan kasus, ada sedikit darah dan jaringan lapisan rahim yang ikut mengalir ke arah sebaliknya, yaitu ke dalam rongga panggul, lalu menempel pada bagian tubuh lainnya, seperti indung telur, rektum, dan bahkan organ yang lebih jauh, seperti paru-paru dan usus. Menstruasi retrograde sebenarnya sering terjadi dan bisa dialami banyak perempuan, tetapi tidak semua perempuan akan mengalami endometriosis. Faktor sistem kekebalan menjadi salah satu kunci mengapa endometriosis hanya terjadi pada sebagian orang.
Faktor Sistem Kekebalan Tubuh hingga Nyeri Hebat pada Endometriosis
Jaringan yang “tersasar”, menempel pada organ-organ yang tidak seharusnya, biasanya akan “dimakan” oleh sel imun. Pada endometriosis, sistem imun tidak sepenuhnya gagal berfungsi. Namun, kemampuan tubuh untuk membersihkan jaringan endometrium yang berada di luar rahim berkurang, sehingga jaringan tersebut dapat bertahan dan berkembang. Jaringan ini kemudian dapat “tinggal” di organ yang salah dengan membentuk hormon (estradiol) yang mendukung jaringan endometriosis untuk terus tumbuh dan bertahan di lokasi penempatannya.
Selain hormon, jaringan endometriosis dapat mengeluarkan senyawa yang memicu peradangan dan rasa nyeri (prostaglandin) dalam jumlah besar. Hormon estradiol nantinya juga akan mendukung peningkatan produksi senyawa yang memicu peradangan. Jaringan endometriosis, yang mampu menghindari sel imun serta memproduksi senyawa radang dan hormon, membentuk lingkaran setan yang menyebabkan nyeri hebat, berulang, dan berkepanjangan, terutama saat haid, pada kondisi endometriosis.
Berbeda dengan peradangan normal yang muncul untuk melawan ancaman lalu mereda setelah tugasnya selesai, pada endometriosis proses peradangan berlangsung terus-menerus. Jaringan endometriosis yang bertahan di luar rahim menghasilkan berbagai zat pemicu peradangan yang menarik lebih banyak sel imun ke sekitarnya. Alih-alih menyelesaikan masalah, respons ini justru menciptakan lingkungan yang semakin mendukung pertumbuhan endometriosis. Akibatnya, tubuh terjebak dalam siklus peradangan kronis yang dapat menyebabkan nyeri berkepanjangan dan memengaruhi fungsi berbagai organ, termasuk organ reproduksi.
Endometriosis Tidak Terbatas pada Nyeri Haid Hebat
Selain nyeri, peradangan yang terjadi pada endometriosis dapat berdampak pada kesuburan. Kondisi peradangan (inflamasi) pada indung telur dapat merusak jaringan indung telur dan mengganggu perkembangan sel telur. Penempelan jaringan endometriosis juga dapat menyebabkan perubahan struktur organ reproduksi dengan membentuk perlengketan dan “bekas luka” atau jaringan parut. Perubahan ini dapat mengganggu pergerakan sel telur dan penempelan calon janin, sehingga menyulitkan perempuan dengan endometriosis untuk hamil.
Jaringan endometriosis yang menempel pada organ lain juga dapat menimbulkan peradangan lokal pada lokasi dan kondisi yang berbeda-beda. Kondisi ini dapat menyebabkan berbagai keluhan, seperti nyeri saat buang air besar (BAB) dan kecil (BAK), nyeri saat berhubungan seksual, perut terasa penuh atau kembung
Tubuh yang terus berada dalam kondisi radang dapat menempatkan penderitanya dalam “invisible disability”, sehingga penderita endometriosis merasa mudah lelah, sulit berkonsentrasi, dan mengalami penurunan kualitas hidup. Banyak perempuan dengan endometriosis tampak sehat dari luar, tetapi harus hidup dengan nyeri kronis yang berdampak luas seperti gangguan tidur. Oleh karena itu, endometriosis bukan sekadar “nyeri haid biasa”, melainkan kondisi medis kompleks yang dipengaruhi oleh hormon, sistem imun, dan proses peradangan kronik di dalam tubuh.
Secara singkat, berikut perbedaan yang terjadi antara kondisi normal dan endometriosis.
| Kondisi Normal | Kondisi Endometriosis |
| Alir balik darah menstruasi yang membawa sel jaringan terdalam rahim mampu dibersihkan oleh sel imun | Sel imun tidak mengenali jaringan “asing” dengan optimal |
| Sel endometrium yang masuk ke rongga panggul berhasil dibersihkan oleh sistem imun | Jaringan terdalam rahim “tersasar” dan berkembang di tempat yang “salah” |
| Peradangan mereda setelah diperlukan | Peradangan menetap dan berulang |
| Nyeri bersifat sementara | Nyeri dapat menjadi kronis |
| Fungsi organ tetap terjaga | Fungsi reproduksi dan kualitas hidup dapat terganggu |
Apakah Endometriosis Termasuk Penyakit Autoimun?
Meskipun sistem imun terlibat sangat dalam, endometriosis tidak diklasifikasikan sebagai penyakit autoimun. Apa bedanya? Pada penyakit autoimun, tubuh memproduksi “pasukan khusus”, yakni autoantibodi, yang secara tidak sengaja menyerang sel-sel sehat. Dalam kasus endometriosis, pasukan khusus ini biasanya bukan penyebab utamanya. Oleh karenanya, endometriosis lebih tepat dianggap sebagai penyakit inflamasi kronis yang dipengaruhi oleh hormon dan sistem imun, bukan autoimun.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa perempuan dengan endometriosis memiliki risiko lebih tinggi mengalami beberapa penyakit autoimun. Namun, hubungan biologis yang mendasarinya masih terus diteliti dan belum sepenuhnya dipahami.
Implikasi bagi Pengenalan Dini dan Pengobatan Endometriosis
Endometriosis yang dapat menyebabkan penderitanya mengalami nyeri hebat dan menurunkan kualitas hidup perlu dikenali sejak dini. Sayangnya, karena keterbatasan pengetahuan dan alat deteksi, serta stigma terhadap nyeri haid, diagnosis endometriosis sering kali baru didapatkan bertahun-tahun setelah gejala pertama muncul. Oleh karena itu, apabila kamu mengalami nyeri panggul berkepanjangan, nyeri haid hebat atau tidak “mempan” dengan pemberian obat, nyeri saat BAB, BAK, atau berhubungan seksual, serta kesulitan untuk hamil, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter.
Pemahaman mengenai peran sistem imun telah membuka peluang pengembangan terapi baru. Namun, hingga saat ini, terapi hormonal, obat antinyeri, dan pembedahan masih menjadi pilar utama pengobatan endometriosis, sementara terapi berbasis imun masih berada dalam tahap penelitian. Selain penanganan menggunakan obat, Endosisters juga dapat melakukan terapi fisik (rehabilitasi otot panggul) dan akupunktur untuk mengurangi nyeri. Mengelola diet dengan komposisi antiinflamasi juga direkomendasikan oleh beberapa penelitian.
Kembali ke skenario di awal, perempuan dengan nyeri haid hebat dan berkepanjangan tidak bisa hanya dikomentari dengan “kan normal, cuma haid.” Ia bisa saja sedang berjuang menghadapi nyeri yang timbul akibat peradangan yang berlangsung lama. Mengenali endometriosis sejak dini bukan hanya membantu mengurangi nyeri, tetapi juga dapat menjaga kualitas hidup dan kesehatan reproduksi perempuan. Dengan memahami mana kondisi yang normal dan tidak, kita dapat bersama-sama memberikan jalan hidup yang lebih baik bagi orang-orang di sekitar kita dengan “invisible disability” karena tidak semua rasa sakit terlihat, tetapi bukan berarti rasa sakit itu tidak nyata.
Referensi:
- Hoffman BL, Schorge JO, Bradshaw KD, Halvorson LM, Schaffer JI, et al. Williams gynecology. 3rd ed. New York: McGraw-Hill Education; 2016. p. 232.
- Blanco LP, Salmeri N, Temkin SM, Shanmugam VK, Stratton P. Endometriosis and autoimmunity. Autoimmun Rev. 2025 Mar 26;24(4):103752. doi: 10.1016/j.autrev.2025.103752.
- Mariadas H, Chen JH, Chen KH. The molecular and cellular mechanisms of endometriosis: From basic
- pathophysiology to clinical implications. Int J Mol Sci. 2025 Mar 10;26(6):2458. doi: 10.3390/ijms26062458.
- Symons LK, Miller JE, Kay VR, Marks RM, Liblik K, et al. The immunopathophysiology of endometriosis. Trends Mol Med. 2018 Sep;24(9):748-762. doi: 10.1016/j.molmed.2018.07.004.
- Park W, Lim W, Kim M, Jang H, Park SJ, et al. Female reproductive disease, endometriosis: From inflammation to infertility. Mol Cells. 2025 Jan;48(1):100164. doi: 10.1016/j.mocell.2024.100164.
- Maulenkul T, Kuandyk A, Makhadiyeva D, Dautova A, Terzic M, et al. Understanding the impact of endometriosis on women’s life: an integrative review of systematic reviews. BMC Womens Health. 2024 Sep 19;24(1):524. doi: 10.1186/s12905-024-03369-5. PMID: 39300399; PMCID: PMC11411992.
- Dai Y, Ye Z, Lin X, Zhang S. Immunopathological insights into endometriosis: from research advances to future treatments. Semin Immunopathol. 2025 Jul 18;47(1):31. doi: 10.1007/s00281-025-01058-5.
- Zheng X, Wang Y, Li H, Zhang J, Liu J, et al. Comparative effectiveness of non-pharmacological interventions for pain and quality of life in women with endometriosis: A systematic review and network meta-analysis. J Pain Res. 2026 Feb 20;19:577080. doi: 10.2147/JPR.S577080.
- Wilder LH, Cabre HE, Dickey MS, Redman LM. Endometriosis: pathophysiology and the potential role of diet. Adv Physiol Educ. 2026 Mar 1;50(1):146-153. doi: 10.1152/advan.00198.2025. Epub 2025 Dec 12. PMID: 41385548; PMCID: PMC12796790.
Disusun oleh:
- Dr. dr. Kanadi Sumapraja, SpOG, SubspFER, MSc – Klaster Human Reproduction, Infertility, and Family Planning (HRIFP), IMERI – Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
- Tiara Maritza Ermizal – Mahasiswi Pendidikan Profesi Dokter FKUI
Artikel ini merupakan kerjasama antara komunitas Endometriosis Indonesia dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia