Endometriosis, suatu kondisi ketika jaringan mirip lapisan dalam rahim (endometrium) tumbuh di luar rahim dan dapat menyebabkan peradangan kronis, bukanlah sekadar masalah nyeri haid, melainkan dapat memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan seorang perempuan, termasuk pernikahannya. Nyeri panggul yang berulang, kelelahan, gangguan suasana hati, hingga nyeri saat berhubungan seksual sering kali muncul tanpa terlihat jelas oleh orang lain. Akibatnya, tidak jarang perempuan dengan endometriosis merasa sendirian dalam menghadapi kondisinya. Ketika rasa sakit tidak terlihat secara fisik, komunikasi menjadi semakin penting. Tanpa komunikasi yang terbuka, kondisi medis ini dapat berubah menjadi jarak emosional, kesalahpahaman, bahkan konflik yang sebenarnya bisa dicegah.
Penelitian menunjukkan bahwa endometriosis dapat memengaruhi kepuasan hubungan, fungsi seksual, serta kesehatan mental kedua belah pihak. Perempuan dengan endometriosis memiliki risiko lebih tinggi mengalami depresi dan kecemasan. Pasangan pun dapat mengalami kelelahan emosional ketika tidak memahami bagaimana membantu secara tepat. Namun, penelitian yang sama juga menunjukkan hal penting lainnya: pasangan yang mampu membangun komunikasi yang sehat dan melihat penyakit ini sebagai tantangan bersama memiliki kualitas hubungan yang lebih baik. Artinya, meskipun endometriosis adalah kondisi kronis, hubungan tidak harus ikut “terluka” jika dikelola dengan tepat.
Prinsip Dasar Komunikasi Sehat
Komunikasi sehat berarti saling berbicara dengan jujur, terbuka, dan saling menghargai. Dalam situasi penyakit kronis seperti endometriosis, ada beberapa prinsip penting.
Melihat penyakit sebagai tantangan bersama
Endometriosis memang terjadi pada tubuh perempuan, tetapi dampaknya dirasakan oleh pasangan sebagai satu kesatuan relasi yang merupakan tantangan bagi pasangan. Penelitian tentang stres pada pasangan menunjukkan bahwa ketika penyakit dipahami sebagai masalah bersama, bukan beban satu pihak saja, hubungan menjadi lebih kuat dan konflik berkurang.
Saling Memvalidasi Perasaan
Nyeri pada endometriosis sering tidak terlihat secara fisik. Karena itu, penting bagi pasangan untuk mengakui bahwa rasa sakit dan kelelahan yang dirasakan adalah nyata. Pasangan dapat melontarkan kalimat validasi terhadap istrinya. Tidak semua keluhan perlu langsung diselesaikan. Terkadang, pasangan hanya perlu didengar dan divalidasi, bukan langsung diberi saran.
Memahami Kondisi Secara Medis
Pengetahuan medis meminimalisir kesalahpahaman pada dinamika pasangan. Pasangan dapat memahami bahwa nyeri, perubahan gairah seksual, atau kelelahan adalah bagian dari kondisi medis yang dapat menjadi poin penting dalam hubungan. Edukasi bersama juga membantu pasangan mengambil keputusan terapi dengan lebih tenang.
Strategi Membangun Percakapan yang Sehat
Komunikasi yang baik harus dilatih bukan datang dengan sendirinya, berikut strategi yang dapat dilakukan:
- Pilih Waktu yang Tepat
Hindari membahas topik sensitif saat nyeri sedang berat atau ketika salah satu sedang lelah. Pilih waktu ketika kondisi fisik dan emosional lebih stabil. - Gunakan Bahasa yang Tidak Menyalahkan
Gunakan kalimat yang berfokus pada perasaan diri sendiri. Misalnya, “Aku merasa sedih ketika kita jarang dekat akhir-akhir ini” lebih baik dibandingkan “Kamu selalu menolak aku.” Hal ini terbukti bahwa terapi pasangan dapat mengurangi konflik. - Diskusikan Intimasi Secara Terbuka
Nyeri saat hubungan seksual dapat menurunkan fungsi seksual dan kepuasan pada kedua pihak, sehingga penting membicarakan batas kenyamanan dan mencari alternatif bentuk keintiman yang tidak menimbulkan nyeri. Pada sebagian perempuan, nyeri saat berhubungan seksual bukan karena kurangnya keinginan, melainkan karena peradangan dan jaringan endometriosis di panggul yang membuat penetrasi terasa menyakitkan. Keintiman tidak selalu harus berupa hubungan seksual penetratif. Kedekatan emosional dapat memperkuat hubungan. - Check-in Emosional Secara Rutin
Luangkan waktu secara berkala untuk bertanya satu sama lain bagaimana kondisi fisik dan perasaan minggu ini. Kebiasaan sederhana ini membantu mencegah masalah kecil menjadi konflik besar. - Konsultasi Medis Bersama
Pasangan dapat mengikuti konsultasi dokter secara bersama-sama. Keterlibatan pasangan meningkatkan pemahaman terhadap kondisi dan membuat dukungan menjadi lebih tepat.
Kapan Perlu Bantuan Profesional?
- Jika komunikasi mulai sering berujung konflik, muncul jarak emosional yang semakin terasa.
- Jika muncul gejala depresi atau kecemasan yang menetap.
- Jika infertilitas (ketidaksuburan) menimbulkan beban psikologis yang bermakna dalam pernikahan, mengingat tingginya tantangan saat terapi kesuburan berupa ketidakpastian, siklus pengobatan, tekanan sosial, dan juga beban finansial.
Bertumbuh bersama di tengah endometriosis bukan berarti mengabaikan rasa sakit. Justru sebaliknya, ini berarti memahami bahwa rasa sakit itu nyata, lalu menjaga agar tetap terhubung, tetap peduli, dan tetap berjalan berdampingan. Dengan komunikasi yang sehat dan dukungan yang tepat, hubungan pernikahan tidak hanya dapat bertahan, tetapi juga menjadi lebih matang dan lebih kuat. Endometriosis adalah kondisi medis yang nyata dan kompleks. Dukungan emosional, terapi medis yang tepat, serta komunikasi yang sehat merupakan tiga pilar penting dalam menjaga kualitas hidup dan kualitas hubungan.
Referensi:
- Pluchino N, Wenger JM, Petignat P, Tal R, Bolmont M, Taylor HS, et al. Sexual function in endometriosis patients and their partners: effect of the disease and consequences of treatment. Hum Reprod Update. 2016 Nov;22(6):762-74. doi: 10.1093/humupd/dmw031.
- Jaeger M, Niederkrotenthaler T, Till B, Werneck H. Associations between health-related quality of life, infertility-related psychological well-being, and relationship quality in individuals with endometriosis: A cross-sectional study. BMC Womens Health. 2024 Dec 21;24(1):657. doi: 10.1186/s12905-024-03510-4.
- Van Niekerk LM, Schubert E, Matthewson M. Emotional intimacy, empathic concern, and relationship satisfaction in women with endometriosis and their partners. J Psychosom Obstet Gynaecol. 2021 Mar;42(1):81-7. doi: 10.1080/0167482X.2020.1774547.
- Pereira MG, Ribeiro I, Ferreira H, Osório F, Nogueira-Silva C, Almeida AC. Psychological Morbidity in Endometriosis: A Couple’s Study. Int J Environ Res Public Health. 2021 Oct 10;18(20):10598. doi: 10.3390/ijerph182010598.
- Schick M, Germeyer A, Böttcher B, Hecht S, Geiser M, Rösner S, et al. Partners matter: The psychosocial well-being of couples when dealing with endometriosis. Health Qual Life Outcomes. 2022 May 28;20(1):86. doi: 10.1186/s12955-022-01991-1.
Disusun oleh:
- dr. Muhammad Ikhsan, Sp. OG – Klaster Human Reproduction, Infertility, and Family Planning (HRIFP), IMERI – Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
- Ersa Felicia Simanjuntak, S.Ked, – Mahasiswi Pendidikan Profesi Dokter FKUI
Artikel ini merupakan kerjasama antara komunitas Endometriosis Indonesia dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia